Empat Dasar Perhatian Murni

DEMIKIANLAH YANG KUDENGAR. Suatu ketika, Sang Buddha sedang menetap di antara para suku Kuru. Di sana terdapat sebuah kota perdagangan yang disebut Kammāsadhamma dan di sana Sang Buddha berkata kepada para bhikkhu: ‘Para bhikkhu!’ ‘Iya Bhante,’ mereka menjawab, dan Sang Buddha berkata:

‘Ada, para bhikkhu, salah satu jalan untuk mensucikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan kesusahan, untuk melenyapkan kesakitan dan kesedihan, untuk memperoleh jalan benar, untuk mencapai Nibbāna:-yaitu, empat dasar perhatian murni.’

‘Apakah empat itu? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, dengan kesadaran jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan keinginan dan belenggu dunia; ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan …; ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran; ia berdiam merenungkan objek-pikiran sebagai objek-pikiran, tekun, dengan kesadaran jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan keinginan dan belenggu dunia.

1.(PERENUNGAN JASMANI(KAGAYATA SATI)

1. Perhatian pada pernafasan

‘Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani? Di sini, seorang bhikkhu, setelah pergi ke hutan, atau ke bawah pohon, atau ke tempat sunyi, duduk bersila, menegakkan tubuhnya, setelah menegakkan perhatian di depannya. Dengan penuh perhatian, ia menarik nafas, dengan penuh perhatian, ia mengembuskan nafas. Menarik nafas panjang, ia mengetahui bahwa ia menarik nafas panjang, dan mengembuskan nafas panjang, ia mengetahui bahwa ia mengembuskan nafas panjang. Menarik nafas pendek, ia mengetahui bahwa ia menarik nafas pendek, dan mengembuskan nafas pendek, ia mengetahui bahwa ia mengembuskan nafas pendek. Ia melatih dirinya, berpikir: “Aku akan menarik nafas, menyadari seluruh jasmani.” Ia melatih dirinya, berpikir: “Aku akan mengembuskan nafas, menyadari seluruh jasmani.” Ia melatih dirinya, berpikir: “Aku akan menarik nafas, menenangkan seluruh proses jasmani.” Ia melatih dirinya, berpikir: “Aku akan mengembuskan nafas, menenangkan seluruh proses jasmani.” Bagaikan seorang akrobatik terampil atau pembantunya, dalam melakukan putaran panjang, tahu bahwa ia melakukan putaran panjang, atau dalam melakukan putaran pendek, tahu bahwa ia melakukan putaran pendek, demikian pula seorang bhikkhu, dalam menarik nafas panjang, tahu bahwa ia menarik nafas panjang, … dan demikianlah ia melatih dirinya, berpikir: “Aku akan mengembuskan nafas, menenangkan seluruh jasmani.

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal, merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal dan eksternal. Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena di dalam jasmani. Ia berdiam merenungkan lenyapnya fenomena di dalam jasmani. Ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya fenomena di dalam jasmani. Atau, penuh perhatian bahwa “ada jasmani” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

2. Empat postur

Kemudian, seorang bhikkhu, ketika sedang berjalan, mengetahui bahwa ia sedang 1.berjalan, ketika sedang 2.berdiri, mengetahui bahwa ia sedang berdiri, ketika sedang 3.duduk, mengetahui bahwa ia sedang duduk, ketika sedang 4.berbaring, mengetahui bahwa ia sedang berbaring. Dalam cara bagaimanapun jasmaninya diposisikan, ia mengetahui sebagaimana adanya.’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal maupun eksternal …. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

3. Kesadaran jernih

‘Kemudian, seorang bhikkhu, ketika berjalan maju atau mundur, sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, dalam melihat ke depan atau ke belakang, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, dalam menunduk dan menegakkan badan, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, dalam membawa jubah dalam dan luarnya dan mangkuknya, ia sadar atas apa yang sedang ia lakukan, dalam makan, minum, mengunyah, dan menelan, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, dalam buang air besar atau buang air kecil, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan, dalam berjalan, berdiri, duduk, tertidur, dan bangun dari tidur, dalam berbicara atau berdiam diri, ia sadar jernih atas apa yang sedang ia lakukan.’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal maupun eksternal …. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

4. Perenungan menjijikkan: Bagian-bagian tubuh

‘Kemudian, seorang bhikkhu memeriksa jasmani ini dari telapak kaki ke atas dan dari kulit kepala ke bawah, terbungkus oleh kulit dan dipenuhi kotoran: “Di dalam jasmani ini terdapat rambut-kepala, bulu badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, ginjal, jantung, hati, sekat rongga dada, limpa, paru-paru, selaput pengikat organ dalam, usus besar, perut, tinja, empedu, dahak, nanah, darah, keringat, lemak, air mata, minyak, ludah, ingus, cairan sendi, air seni.” Bagaikan ada sebuah karung, yang terbuka di kedua ujungnya, penuh dengan berbagai jenis biji-bijian seperti beras-gunung, padi, kacang hijau, kacang merah, wijen, beras merah, dan seorang yang berpenglihatan baik membuka karung itu dan memeriksanya, dapat mengatakan: ”Ini adalah beras-gunung, padi, kacang hijau, kacang merah, wijen, beras merah,” demikian pula seorang bhikkhu memeriksa jasmani ini: “Di dalam jasmani ini terdapat rambut-kepala, bulu badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, limpa, seraput dada, paru-paru, jantung, hati, ginjal, perut, usus, saluran usus, tinja, empedu, lendir, nanah, darah, keringat, lemak tubuh, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan sendi, air seni, dan otak

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal maupun eksternal …. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

5. Empat Unsur

‘Kemudian, seorang bhikkhu memeriksa jasmani ini, bagaimanapun posisinya, dalam hal unsur-unsur:

“Terdapat dalam jasmani ini, 1.unsur tanah, 2.unsur air, 3.unsur api, 4.unsur angin.” Bagaikan seorang tukang daging yang terampil atau pembantunya, setelah menyembelih seekor sapi, duduk di persimpangan jalan dengan daging yang telah dibagi dalam beberapa bagian, demikianlah seorang bhikkhu memeriksa jasmani ini … dalam hal unsur-unsur: “Terdapat dalam jasmani ini, unsur tanah, unsur air, unsur api, unsur angin.”’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal maupun eksternal …. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

(Penjelasan Empat Unsur : 1.unsur tanah, 2.unsur air, 3.unsur api, 4.unsur angin)

Sumber :

Sutta Pitaka-Majjhima Nikaya-BHIKKHU VAGGA-62.Maharahulovada Sutta

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/maharahulovada-sutta/

1.Sang Buddha : Rahula apapun yang internal, menjadi miliki diri sendiri, bersifat padat, dipadatkan, dan dilekati, yaitu rambut-kepala, bulu badan, kuku, gigi, kulit, daging, urat, tulang, sumsum, limpa, seraput dada, paru-paru, jantung, hati, ginjal, perut, usus, saluran usus, tinja atau apa pun lainnya yang internal, ada pada diri sendiri, bersifat padat, dipadatkan, dan dilekati: inilah yang disebut elemen tanah internal.
Baik elemen tanah internal maupun eksternal hanyalah elemen tanah semata. Dan itu seharusnya dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.’Jika orang melihatnya demikian sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar, maka orang itu menjadi tidak-tertarik pada elemen tanah dan membuat pikirannya tidak-bernafsu terhadap
elemen tanah.

2.“Apakah, Rahula, elemen air itu? Elemen air bisa bersifat internal atau eksternal. Apakah elemen air internal? Apa pun yang internal, ada pada diri sendiri, merupakan air, bersifat cair, dan dilekati, yaitu empedu, lendir, nanah, darah, keringat, lemak tubuh, air mata, minyak kulit, ludah, ingus, cairan sendi, air seni, dan otak atau apa pun lainnya yang internal, ada apa diri sendiri,merupakan air, bersifat cair, dan dilekati: ini disebut elemen air internal. Baik elemen air internal maupun eksternal hanyalah elemen air semata. Dan itu seharusnya dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.” Jika orang melihatnya demikian sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar, maka orang itu menjadi tidak tertarik pada elemen air dan membuat pikirannya tidak-bernafsu terhadap elemen air.

3.“Apakah, Rahula, elemen api itu? Elemen api bisa bersifat internal atau eksternal. Apakah elemen api internal? Apa pun yang internal, ada pada diri sendiri, merupakan api, bersifat api, dan dilekati, yaitu, yang menyebabkan orang hangat, menua, dan termakan, dan yang melaluinya maka apa yang dimakan, diminum, dikonsumsi, dan dicicipi menjadi sepenuhnya tercerna, atau apa pun lainya yang apa pun lainnya yang
internal, ada apa diri sendiri,merupakan api, bersifat api, dan dilekati: ini disebut elemen api internal. Baik elemen api internal maupun eksternal hanyalah elemen api semata. Dan itu seharusnya dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.” Jika orang melihatnya demikian sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar, maka orang itu
menjadi tidak-tertarik pada elemen api dan membuat pikirannya tidak-bernafsu terhadap elemen api.

4. “Apakah, Rahula, elemen udara itu? Elemen udara bisa bersifat internal atau eksternal. Apakah elemen udara internal? Apa pun yang internal, ada pada diri sendiri, merupakan udara, bersifat udara, dan dilekati, yaitu, angin ke atas, angin ke bawah, angin di dalam perut, angin di dalam usus, angin yang bergerak di tangan dan kaki, nafas-masuk dan nafas-keluar, atau apa pun lainnya yang yang internal, ada apa diri
sendiri,merupakan udara, bersifat udara, dan dilekati: ini disebut elemen udara internal. Baik elemen udara internal maupun eksternal hanyalah elemen udara semata. Dan itu seharusnya dilihat sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar demikian: ‘Ini bukan milikku, ini bukan aku, ini bukan diriku.”  Jika orang melihatnya demikian sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan yang benar, maka orang itu
menjadi tidak-tertarik pada elemen udara dan membuat pikirannya tidak-bernafsu terhadap elemen udara.

6. Sembilan perenungan tanah pekuburan

‘Kemudian, seorang bhikkhu, 1.seolah-olah ia melihat mayat yang dibuang di tanah pekuburan, satu, dua, atau tiga hari setelah meninggal dunia, membengkak, berubah warna, membandingkan jasmani ini dengan mayat itu, berpikir: “Jasmani ini memiliki sifat yang sama. Jasmani ini akan menjadi seperti mayat itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.”’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, secara eksternal, dan secara internal maupun eksternal. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

Kemudian, seorang bhikkhu, 2. seolah-olah ia melihat mayat di tanah pekuburan, dibuang, dimakan oleh burung gagak, elang atau nasar, oleh anjing atau serigala, atau berbagai binatang lainnya, membandingkan jasmani ini dengan mayat itu, berpikir: “Jasmani ini memiliki sifat yang sama. Jasmani ini akan menjadi seperti mayat itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.”’

‘Kemudian, seorang bhikkhu, 3.seolah-olah ia melihat mayat di tanah pekuburan, dibuang, kerangka tulang belulang dengan daging dan darah, 4.dirangkai oleh urat, … kerangka tulang-belulang tanpa daging berlumuran darah, 5.dirangkai oleh urat, … kerangka tulang-belulang yang tanpa daging dan darah, dirangkai oleh urat, … 6.tulang-belulang yang tersambung secara acak, berserakan di segala penjuru, tulang lengan di sini, tulang-kaki di sana, tulang-kering di sini, tulang-paha di sana, tulang-panggul di sini, tulang punggung di sini, tulang-tengkorak di sana, membandingkan jasmani ini dengan mayat itu ….’

‘Kemudian, seorang bhikkhu, 7.seolah-olah ia melihat mayat di tanah pekuburan, dibuang, tulangnya memutih, terlihat seperti kulit-kerang …, 8.tulang-belulangnya menumpuk, setelah setahun …, 9.tulang belulangnya hancur menjadi bubuk, membandingkan jasmani ini dengan mayat itu, berpikir: “Jasmani ini memiliki sifat yang sama. Jasmani ini akan menjadi seperti mayat itu, jasmani ini tidak terbebas dari takdir itu.”’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal, merenungkan jasmani sebagai jasmani secara eksternal, berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani secara internal dan eksternal. Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena dalam jasmani, merenungkan lenyapnya fenomena dalam jasmani, ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya fenomena dalam jasmani. Atau, penuh perhatian bahwa “ada jasmani” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani.’

Manfaat mengembangkan dan terus menerus mempraktikkan PERENUNGAN JASMANI(KAGAYATA SATI)

Sumber :

Sutta Pitaka-Majjhima Nikaya-ANUPADA VAGGA-119.Kayagatasati Sutta

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kayagatasati-sutta/

Sutta Pitaka-Majjhima Nikaya-PARIBBAJAKA VAGGA-77. Maha Sakuludayi sutta

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/mahasakuludayi-sutta/

Sang Buddha : Bilamana seorang telah mengembangkan dan terus menerus mempraktikkan kayagata sati (perhatian seksama pada jasmani), berarti ia telah mensertakan kusala dhamma (dhamma baik atau berguna) dan pengetahuan benar. Bagaikan seorang yang mengarahkan pikirannya pada samudra besar yang mencakup sungai apapun yang bermuara pada samudra tersebut. Demikian pula, seorang bhikkhu yang telah mengembangkan dan terus menerus mempraktikkan kayagata sati, berarti ia telah mensertakan kusala dhamma dan pengetahuan benar.
Bilamana seseorang tidak mengembangkan dan tidak terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka Mara mendapat kesempatan dan obyek pada orang itu.
Para bhikkhu, bagaimana pendapat kalian, andaikata seseorang melemparkan sebuah bola batu yang berat ke setumpuk tanah liat basah, apakah bola batu yang berat itu akan masuk ke dalam tumpukan tanah liat itu?”
“Ya, Bhante.”
“Para bhikkhu, demikian pula bilamana seseorang tidak mengembangkan dan tidak terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka Mara mendapat kesempatan dan obyek pada orang itu.
Para bhikkhu, bagaimana pendapat kalian, andaikata ada sepotong kayu kering dan ada seseorang yang datang dengan membawa sebuah tongkat pemantik api sambil berpikir: ‘Saya akan menyalakan api, saya akan menimbulkan panas’; apakah orang itu akan dapat menyalakan api dan menimbulkan panas bila sepotong kayu kering tadi digosokkan dengan tongkat pemantik api itu?”
“Ya, Bhante.”
“Para bhikkhu, demikian pula bilamana seseorang tidak mengembangkan dan tidak terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka Mara mendapat kesempatan dan obyek pada orang itu.
Para bhikkhu, bagaimana pendapat kalian, andaikata ada sebuah bejana kosong berdiri di atas sebuah tempat bejana dan ada orang yang datang sambil membawa air, apakah ia dapat menuangkan air ke dalam bejana itu?”
“Ya, Yang Mulia.”
“Para bhikkhu, demikian pula bilamana seseorang tidak mengembangkan dan tidak terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka Mara mendapat kesempatan dan obyek pada orang itu.
Bilamana seseorang telah mengembangkan dan terus menerus mempraktikkan kayagata sati, maka Mara tidak mendapat kesempatan dan obyek pada orang itu.
Para bhikkhu, bagaimana pendapat kalian, andaikata ada orang yang melemparkan sebuah gulungan benang yang ringan pada daun pintu, yang berbuat dari kayu keras; apakah gulungan benang yang ringan itu dapat menembus daun pintu yang terbuat dari kayu keras tersebut?”
“Tidak, Bhante.”
“Para bhikkhu, demikian pula bilamana seseorang telah mengembangkan dan terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka Mara tidak mendapat kesempatan dan obyek pada orang itu.
Para bhikkhu, bagaimana pendapat kalian, andaikata ada sepotong kayu basah dan ada orang yang datang dengan membawa sebuah tongkat pemantik api sambil berpikir: ‘Saya akan menyalakan api, saya akan menimbulkan panas’; apakah orang itu akan dapat menyalakan api dan menimbulkan panas bila sepotong kayu basah tadi digosokkan dengan tongkat pemantik api itu?”
“Tidak, Bhante.”
“Para bhikkhu, demikian pula bilamana seseorang telah mengembangkan dan terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka Mara tidak mendapat kesempatan dan obyek pada orang itu.”
Para bhikkhu, bagaimana pendapat kalian, andaikata ada sebuah bejana yang ada di atas sebuah tempat bejana, yang berisi penuh dengan air dan meluap, sehingga burung gagak dengan mudah meminum airnya dan ada orang datang sambil membawa air; apakah dia dapat menuangkan air ke dalam bejana itu?”
“Tidak, Bhante.”
“Para bhikkhu, demikian pula bilamana seseorang telah mengembangkan dan terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka Mara tidak mendapat kesempatan dan obyek pada orang itu.
Bilamana seseorang telah mengembangkan dan terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka ia mempunyai abhinna (kemampuan batin) yang dapat membuktikan segala sesuatu (dhamma) sesuai dengan kecenderungan pikirannya, kapan saja bila ia mau.
Andaikata ada sebuah bejana air yang berdiri di atas sebuah tempat bejana, yang berisi penuh dengan air sampai meluap, sehingga burung gagak dengan mudah meminum airnya, lalu seorang perkasa memiringkan bejana tersebut, apakah air akan tumpah setiap kali bejana dimiringkan?”
“Ya, Bhante.”
“Para bhikkhu, demikian pula bilamana seseorang telah mengembangkan dan terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka ia mempunyai abhinna yang dapat membuktikan segala sesuatu (dhamma), sesuai dengan kecenderungan pikirannya, kapan saja bila ia mau.
Andaikata pada sebidang tanah terdapat sebuah kolam segi empat yang lengkap dengan tanggul-tanggulnya, berisi penuh dengan air sampai meluap sehingga burung gagak mudah meminum airnya, lalu seorang perkasa merobohkan tanggulnya, apakah air akan tumpah?
“Ya, Bhante.”
“Para bhikkhu, demikian juga bilamana seseorang telah mengembangkan dan terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka ia mempunyai abhinna (kemampuan batin) yang dapat membuktikan segala sesuatu (dhamma), sesuai dengan kecenderungan pikirannya, kapan saja bila ia mau.
Andaikata ada sebuah kereta yang lengkap dengan kuda-kuda pilihan dan dilengkapi cambuk siap digunakan, dan kereta itu sudah siap di perempatan jalan sehingga seorang kusir yang mahir mengendalikan kuda-kuda akan dengan mudah menaiki kereta, memegang tali kekang, menjalankan kereta itu kian kemari ke arah mana saja yang ia sukai. Para bhikkhu, demikian pula bila seorang bhikkhu telah mengembangkan dan terus-menerus mempraktikkan kayagata sati, maka ia mempunyai abhinna (kemampuan batin) yang dapat membuktikan segala sesuatu (dhamma), sesuai dengan kecenderungan pikirannya, kapan saja bila ia mau.

Bilamana kayagata sati dikembangkan, terus-menerus dipraktikkan, dijadikan sebagai sarana dan dasar, dibentuk, dikonsolidasikan, dilaksanakan dengan baik, maka ada sepuluh manfaat akan diperolehnya. Apakah kesepuluh manfaat itu?
1. Ia menjadi penakluk kebencian, senang dan kebencian tidak menguasainya, ia dapat mengatasi kebencian bilamana kebencian muncul.

2. Ia menjadi penakluk rasa takut dan ngeri, rasa takut dan ngeri tidak menguasainya, ia dapat mengatasi rasa takut dan ngeri bila hal-hal itu muncul.

3. Ia menjadi tahan rasa dingin, rasa panas, lapar, haus, gigitan nyamuk, lalat, angin, matahari dan segala binatang merayap; ia tahan mendengar kata-kata menyakitkan dan yang tak disukai; ia tahan terhadap penderitaan fisik seperti sakit, pedih, goresan, sayatan, tusukan, tidak menyenangkan, menekan dan membahayakan keselamatan.

4. Ia menjadi orang yang dengan sekehendak hatinya mendapatkan dengan mudah dan tanpa kesulitan mencapai empat tingkat Jhana, yang merupakan tingkat pikiran yang lebih tinggi dan merasakan kesenangan pada saat sekarang.

5. Ia memiliki bermacam-macam iddhividha atau ‘kemampuan batin fisik’ yaitu ia dapat memperbanyak dirinya, atau dari banyak kembali menjadi seorang, menembus benteng atau dinding, menyelam dalam tanah bagaikan menyelam dalam air, berjalan di atas air bagaikan berjalan di tanah, terbang di angkasa bagaikan burung, ia dapat menyentuh matahari dan bulan, dengan tubuhnya ia dapat pergi ke alam brahma.

6. Ia memiliki elemen telinga dewa, dengan elemen telinga-dewa, yang dimurnikan dan melampaui manusia- mereka mendengar dua jenis- suara –suara surgawi dan manusiawi- yang jauh maupun yang dekat. Sama seperti seorang peniup terompet yang kuat mungkin membuat dirinya terdengar tanpa kesulitan di empat penjuru.

7. Ia dapat mengetahui pikiran orang lain, memahami pikiran makhluk lain, pikiran orang lain, setelah meliputinya dengan pikiran mereka sendiri. Ia memahami pikiran yang dipengaruhi oleh nafsu sebagai yang dipengaruhi oleh nafsu dan pikiran yang tidak dipengaruhi oleh nafsu sebagai yang tidak dipengaruhi oleh nafsu; Ia memahami pikiran yang dipengaruhi oleh kebencian sebagai yang dipengaruhi oleh kebencian dan pikiran yang tidak dipengaruhi oleh kebencian sebagai yang tidak dipengaruhi oleh kebencian; mereka memahami pikiran yang dipengaruhi oleh kebodohan batin sebagai yang dipengaruhi oleh kebodohan batin dan pikiran yang tidak dipengaruhi oleh kebodohan  batin sebagai yang tidak dipengaruhi oleh kebodohan batin; Ia memahami pikiran yang mengkerut sebagai yang mengkerut dan pikiran yang terganggu sebagai yang terganggu; Ia memahami pikiran yang tinggi sebagai yang tinggi dan pikiran yang tidak tinggi sebagai yang tidak tinggi; Ia memahami pikiran yang terlampaui sebagai yang terlampaui dan pikiran yang tidak terlampaui sebagai yang tidak terlampaui; Ia memahami pikiran yang terkonsentrasi sebagai yang terkonsentrasi dan pikiran yang tidak terkonsentrasi sebagai yang tidak terkonsentrasi; Ia memahami pikiran yang terbebas sebagai yang terbebas dan pikiran yang tidak terbebas sebagai yang tidak terbebas. Sama seperti seorang pria atau perempuan – yang muda, belia, dan suka perhiasan – ketika memandang pantulan wajahnya di cermin yang bersih dan berkilau atau di mangkuk air yang bersih, akan mengetahui jika ada sebuah bintik demikian: ‘Ada sebuah bintik,’atau akan mengetahui jika tidak ada bintik demikian : ‘Tidak ada bintik’; demikian juga, cara untuk memahami… pikiran yang tidak terbebas sebagai yang tidak terbebas.

8.Ia mempunyai kemampuan untuk mengingat kembali kehidupan-kehidupannya pada masa yang lampau yaitu, satu kelahiran, dua kelahiran, tiga kelahiran, empat kelahiran, lima kelahiran, sepuluh kelahiran, dua puluh kelahiran, tiga puluh kelahiran, empat puluh kelahiran, lima puluh kelahiran, seratus kelahiran, seribu kelahiran, seratus ribu kelahiran, berkalpa-kalpa pengerutan-dunia, berkalpa-kalpa pengembangan dunia, berkalpa-kalpa pengerutan dan pengembangan dunia: “Di sana aku bernama demikian, dari keluarga demikian, dengan penampilan demikian, seperti itulah makananku, sedemikian rupa adalah penderitaan dan kesenanganku, seperti itu masa-hidupku; dan setelah meninggal dari sana, aku muncul kembali di tempat lain; dan di sana juga aku bernama demikian … dan setelah meninggal dari sana, aku muncul kembali di sini.’ Demikianlah dengan aspek dan cirinya, Ia mengingat kembali berbagai kehidupan lampau hingga perbuatan-perbuatan yang sekecil-kecilnya dan sedetailnya.

9. dengan mata-dewa, yang dimurnikan dan melampaui manusia, mereka melihat para makhluk berlalu dan muncul kembali, rendah dan tinggi, elok dan buruk rupa, beruntung dan tidak beruntung. Mereka memahami bagaimana para makhluk berlanjut sesuai dengan tindakan mereka demikian: ‘Para makhluk yang berharga yang berperilaku jahat melalui tubuh, ucapan, dan pikiran, pencaci para mulia, salah dalam pandangan mereka, menghasilkan pandangan salah dalam tindakan-tindakan mereka, pada saat hancurnya tubuh, setelah kematian, telah muncul kembali di alam sengsara, di tempat yang buruk, di alam penderitaan, bahkan di neraka; tetapi para makhluk berharga yang berperilaku baik melalui tubuh, ucapan dan pikiran, bukan pencaci para mulia, benar dalam pandangan mereka, menghasilkan pandangan benar dalam tindakan-tindakan mereka, pada saat hancurnya tubuh, setelah kematian, muncul kembali di tempat yang baik, bahkan di alam surga.’Demikianlah dengan mata-dewa, yang dimurnikan dan melampaui manusia, mereka melihat para makhluk berlalu dan muncul kembali, rendah dan tinggi, elok dan buruk rupa, beruntung dan tidak beruntung, dan mereka memahami bagaimana para makhluk berlanjut sesuai dengan tindakan mereka.

10. Pada saat sekarang ini, dengan abhinna (Kekuatan Batin) ia merealisasikan dirinya sendiri, ia mencapai cetovimutti (kesucian melalui samadhi) dan pannavimutti (kesucian melalui kebijaksanaan) dengan melenyapkan semua asava (kotoran batin).

Bilamana kayagata sati dikembangkan, terus-menerus dipraktikkan, dijadikan sebagai sarana dan dasar, dibentuk dan dikonsolidasikan, dilaksanakan dengan baik, maka ada sepuluh manfaat akan diperolehnya.”
Inilah yang dibabarkan oleh Sang Bhagava. Para bhikkhu merasa puas dan gembira dengan apa yang diuraikan Sang Bhagava.

2.(PERENUNGAN PERASAAN)

Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan? Di sini, seorang bhikkhu yang sedang 1.merasakan perasaan menyenangkan mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan menyenangkan; 2.merasakan perasaan menyakitkan, ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan menyakitkan; 3.merasakan perasaan yang-bukan-menyenangkan juga-bukan menyakitkan, ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan yang-bukan-menyenangkan-juga bukan-menyakitkan; 4.merasakan perasaan indria yang menyenangkan, ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan indria yang menyenangkan; 5.merasakan perasaan indria yang tidak menyenangkan, ia mengetahui bahwa ia merasakan perasaan indria yang tidak menyenangkan; 6.merasakan perasaan indria yang menyenangkan juga bukan menyenangkan, ia mengetahui bahwa ia sedang merasakan perasaan indria yang menyenangkan juga bukan menyenangkan.’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan secara internal. Ia merenungkan perasaan sebagai perasaan secara eksternal …. Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena dalam perasaan, lenyapnya fenomena, serta muncul dan lenyapnya fenomena dalam perasaan. Atau, penuh perhatian bahwa “ada perasaan” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan.’

3.(PERENUNGAN PIKIRAN)

‘Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran? Di sini, seorang bhikkhu mengetahui 1.pikiran penuh nafsu sebagai penuh nafsu, pikiran yang bebas dari nafsu sebagai bebas dari nafsu; 2.pikiran membenci sebagai membenci, pikiran yang bebas dari kebencian sebagai bebas dari kebencian; 3.pikiran yang menipu sebagai menipu, pikiran yang tidak menipu sebagai tidak menipu; 4.pikiran mengerut sebagai mengerut, pikiran kacau sebagai pikiran kacau, 5.pikiran terkembang sebagai terkembang, pikiran yang tidak terkembang sebagai tidak terkembang; 6.pikiran yang terlampaui sebagai terlampaui, pikiran tidak terlampaui sebagai tidak terlampaui; 7.pikiran terkonsentrasi sebagai terkonsentrasi, pikiran tidak terkonsentrasi sebagai tidak terkonsentrasi; 8.pikiran terbebas sebagai terbebas, pikiran tidak terbebas sebagai tidak terbebas.’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran secara internal. Ia merenungkan pikiran sebagai pikiran secara eksternal …. Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena dalam pikiran …. Atau, penuh perhatian bahwa “ada pikiran” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam terlepas, tidak menggenggam pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran.’

4.(PERENUNGAN OBJEK-OBJEK PIKIRAN)

‘Dan bagaimanakah, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran?’

1. Lima Rintangan

‘Di sini, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan lima rintangan. Bagaimanakah ia melakukannya? Di sini, para bhikkhu, 1.jika keinginan-indria hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa keinginan-indria hadir. Jika keinginan-indria tidak ada dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa keinginan-indria tidak ada. Dan ia mengetahui bagaimana keinginan-indria yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana menyingkirkan keinginan-indria yang telah muncul, dan ia mengetahui bagaimana ketidak-munculan di masa depan dari keinginan-indria yang telah disingkirkan.’2. ‘Jika kebencian hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa kebencian hadir …. Dan ia mengetahui bagaimana ketidakmunculan di masa depan dari kebencian.’ 3.‘Jika ketumpulan dan kelambanan hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa ketumpulan dan kelambanan hadir …. Dan ia mengetahui bagaimana ketidakmunculan di masa depan dari ketumpulan dan kelambanan.’ 4.‘Jika kekhawatiran dan kegelisahan hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa kekhawatiran dan kegelisahan hadir …. Dan ia mengetahui bagaimana ketidakmunculan di masa depan dari kekhawatiran dan kegelisahan.’ 5.‘Jika keragu-raguan hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui bahwa keragu-raguan hadir. Jika keragu-raguan tidak ada dalam dirinya, ia mengetahui bahwa keragu-raguan tidak ada. Dan ia mengetahui bagaimana keragu-raguan yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana menyingkirkan keragu-raguan yang telah muncul, dan ia mengetahui bagaimana ketidakmunculan di masa depan dari keragu-raguan yang telah disingkirkan.’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara internal …. Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena dalam objek-objek pikiran …. Atau, penuh perhatian bahwa “ada objek-objek pikiran” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam terlepas, tidak menggenggam pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan lima rintangan.’

2. Lima gugus

‘Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sehubungan dengan lima gugus kemelekatan. Bagaimanakah ia melakukannya? Di sini, seorang bhikkhu berpikir: 1.“Demikianlah bentuk jasmani, demikianlah munculnya bentuk jasmani, demikianlah lenyapnya bentuk jasmani; 2.demikianlah perasaan, demikianlah munculnya perasaan, demikianlah lenyapnya perasaan; 3.demikianlah pencerapan, demikianlah munculnya pencerapan, demikianlah lenyapnya pencerapan; 4.demikianlah bentukan-bentukan pikiran, demikianlah munculnya bentukan-bentukan pikiran, demikianlah lenyapnya bentukan-bentukan pikiran;5.demikianlah kesadaran, demikianlah munculnya kesadaran, demikianlah lenyapnya kesadaraan.’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara internal …. Dan ia berdiam terlepas, tidak menggenggam pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan lima gugus kemelekatan.’

3. Enam Landasan Indria Internal dan Eksternal

‘Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sehubungan dengan enam landasan-indria internal dan eksternal. Bagaimanakah ia melakukannya? Di sini, seorang bhikkhu 1.mengetahui mata, mengetahui objek-objek penglihatan, dan ia mengetahui belenggu apa pun yang muncul bergantung pada kedua hal ini. Dan ia mengetahui bagaimana belenggu yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana melepaskan belenggu yang telah muncul, dan ia mengetahui bagaimana ketidakmunculan belenggu yang telah dilepaskan itu akan muncul di masa depan.2. Ia mengetahui telinga dan suara-suara …. 2.Ia mengetahui hidung dan bau-bauan …. 4.Ia mengetahui badan dan 5.objek-objek sentuhan …. 6.Ia mengetahui pikiran dan mengetahui objek-objek pikiran, dan ia mengetahui belenggu apa pun yang muncul bergantung pada kedua hal ini. Dan ia mengetahui bagaimana belenggu yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana melepaskan belenggu yang telah muncul, dan ia mengetahui bagaimana ketidak munculan belenggu yang telah dilepaskan itu akan muncul di masa depan.’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara internal …. Dan ia berdiam terlepas, tidak menggenggam pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan enam landasan indria internal dan eksternal.’

4. Tujuh Faktor Penerangan Sempurna

‘Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sehubungan dengan tujuh faktor penerangan sempurna. Bagaimanakah ia melakukannya? Di sini, para bhikkhu, jika faktor penerangan sempurna perhatian hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui kehadirannya. Jika faktor penerangan sempurna perhatian tidak hadir dalam dirinya, ia mengetahui ketidakhadirannya.

Dan ia mengetahui bagaimana faktor penerangan sempurna 1.perhatian yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana kesempurnaan dari pengembangan faktor penerangan sempurna perhatian itu muncul. Jika faktor penerangan sempurna 2.penyelidikan kondisi-kondisi (penyelidikan Dhamma) hadir dalam dirinya …. Jika faktor penerangan sempurna 3.usaha (Semangat) hadir dalam dirinya …. Jika faktor penerangan sempurna 4.kegembiraan hadir dalam dirinya …. Jika faktor penerangan sempurna 5.ketenangan hadir dalam dirinya …. Jika faktor penerangan sempurna 6.konsentrasi hadir dalam dirinya …. jika faktor penerangan sempurna 7.keseimbangan hadir dalam dirinya, seorang bhikkhu mengetahui kehadirannya. Jika faktor penerangan sempurna keseimbangan tidak hadir dalam dirinya, ia mengetahui ketidakhadirannya. Dan ia mengetahui bagaimana faktor penerangan sempurna keseimbangan yang belum muncul itu muncul, dan ia mengetahui bagaimana kesempurnaan dari pengembangan faktor penerangan sempurna keseimbangan itu muncul.’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara internal …. Dan ia berdiam terlepas, tidak menggenggam pada apa pun di dunia ini. Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan tujuh faktor penerangan sempurna.’

5. Empat Kebenaran Mulia

‘Kemudian, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia. Bagaimanakah ia melakukannya? Di sini, seorang bhikkhu 1.mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah penderitaan”; 2.ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah asal-mula penderitaan”; 3.ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah lenyapnya penderitaan”; 4.ia mengetahui sebagaimana adanya: “Ini adalah jalan menuju lenyapnya penderitaan.”’

1.’Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia Penderitaan? Kelahiran adalah penderitaan, usia-tua adalah penderitaan, kematian adalah penderitaan, dukacita adalah penderitaan, ratapan adalah penderitaan, kesakitan adalah penderitaan, kesedihan dan kesusahan adalah penderitaan. Berkumpul dengan yang tidak dicintai adalah penderitaan, berpisah dari yang dicintai adalah penderitaan, tidak mendapatkan apa yang diinginkan adalah penderitaan. Singkatnya, lima gugus kemelekatan adalah penderitaan.’ ‘

Dan apakah, para bhikkhu, kelahiran? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apa pun juga, ada kelahiran, akan datang, kedatangan, kemunculan gugus-gugus, mendapatkan enam landasan (Indra tubuh) . Itu, para bhikkhu, adalah yang disebut kelahiran.’

‘Dan apakah usia-tua? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apa pun juga, mengalami usia-tua, jompo, gigi tanggal, rambut memutih, kulit keriput, mengerut seiring usia, indria-indria melemah, itu, para bhikkhu, disebut usia-tua.’

‘Dan apakah kematian? Makhluk apa pun juga, kelompok makhluk apa pun juga, ada, mengalami kematian, musnah, terputus, lenyap, meninggal dunia, sekarat, berakhir, terputusnya gugus-gugus, lepasnya jasmani, itu, para bhikkhu, disebut kematian.’

‘Dan apakah dukacita? Ketika, karena kemalangan apa pun juga, seseorang terpengaruh oleh sesuatu yang bersifat menyakitkan, berduka, berkabung, bersusah hati, kesedihan di dalam, kesengsaraan di dalam, itu, para bhikkhu, disebut dukacita.’

‘Dan apakah ratapan? Ketika, karena kemalangan apa pun juga, seseorang terpengaruh oleh sesuatu yang bersifat menyakitkan dan menjadi menangis, mengeluh, meraung karena sedih, meratap, itu, para bhikkhu, disebut ratapan.’

‘Dan apakah kesakitan? Perasaan sakit apa pun pada jasmani, perasaan tidak menyenangkan pada jasmani, perasaan sakit atau tidak menyenangkan yang muncul dari kontak jasmani, itu, para bhikkhu, disebut kesakitan.’

‘Dan apakah kesedihan? Perasaan sakit apa pun pada batin, perasaan tidak menyenangkan pada batin, perasaan sakit atau tidak menyenangkan yang muncul dari kontak batin, itu, para bhikkhu, disebut kesedihan.’

‘Dan apakah kesusahan? Ketika, karena kemalangan apa pun juga, seseorang terpengaruh oleh sesuatu yang bersifat menyakitkan, bersusah hati, kesusahan besar, didera oleh kesusahan, oleh kesusahan besar, itu, para bhikkhu, disebut kesusahan.’

‘Dan apakah, para bhikkhu, berkumpul dengan yang tidak dicintai? Di sini, siapa pun yang tidak diinginkan, tidak disukai, objek-penglihatan, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-sentuhan atau objek-pikiran yang tidak menyenangkan, atau siapa pun yang bertemu dengan orang yang mengharapkan kemalangannya, orang yang mengharapkan kecelakaannya, ketidaknyamanannya, ketidakamanannya, yang dengan mereka ia berkumpul, bergaul, berhubungan, bergabung, itu, para bhikkhu, disebut berkumpul dengan yang tidak dicintai.’

‘Dan apakah, para bhikkhu, berpisah dengan yang dicintai? Di sini, siapa pun yang diinginkan, disukai, objek-penglihatan, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-sentuhan atau objek-pikiran yang menyenangkan, atau siapa pun yang bertemu dengan orang yang mengharapkan kesejahteraannya, orang yang mengharapkan kebaikannya, kenyamanannya, keamanannya, ibu atau ayah atau saudara laki-laki atau perempuan atau sanak saudara atau sahabat atau kerabat-sedarah, dan kemudian direnggut dari kebersamaan, pergaulan, hubungan, gabungan demikian, itu, para bhikkhu, disebut berpisah dari yang dicintai.’

‘Dan apakah tidak mendapatkan apa yang diinginkan? Dalam diri makhluk-makhluk yang mengalami kelahiran, para bhikkhu, keinginan ini muncul: “Oh, seandainya kita tidak mengalami kelahiran, seandainya kita tidak dilahirkan!” Tetapi hal ini tidak mungkin dicapai hanya dengan menginginkan. Ini adalah tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Dalam diri makhluk-makhluk yang mengalami usia-tua, penyakit, dukacita, ratapan, kesakitan, kesedihan, dan kesusahan muncul keinginan ini: “Oh, seandainya kita tidak mengalami usia-tua, …, kesusahan, seandainya kita tidak bertemu dengan hal-hal ini!” Tetapi hal-hal ini tidak mungkin dicapai hanya dengan menginginkan. Ini adalah tidak mendapatkan apa yang diinginkan.’

‘Dan bagaimanakah, para bhikkhu, singkatnya, lima gugus kemelekatan adalah penderitaan? Yaitu sebagai berikut: gugus kemelekatan bentuk jasmani, gugus kemelekatan perasaan, gugus kemelekatan persepsi, gugus kemelekatan bentukan-bentukan batin, gugus kemelekatan kesadaran. Ini adalah, singkatnya, lima gugus kemelekatan adalah penderitaan. Dan itu, para bhikkhu, disebut Kebenaran Mulia Penderitaan.’

2. ‘Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia Asal-mula Penderitaan? Yaitu, keinginan yang memunculkan kelahiran, yang bergabung dengan kesenangan dan nafsu, mencari kenikmatan baru di sana-sini: dengan kata lain keinginan-indria, keinginan akan penjelmaan, dan keinginan akan pemusnahan.’

‘Dan di manakah keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya? Di mana pun di dunia ini terdapat hal-hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.’

‘Dan apakah di dunia ini, hal-hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati? Mata di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, telinga …, hidung …, lidah …, badan …, pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.

Pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.

Kesadaran-mata, kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah, kesadaran-badan, kesadaran pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.

Kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-badan, kontak-pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.

Perasaan yang muncul dari kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-badan, kontak-pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.

Persepsi penglihatan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.

Kehendak sehubungan dengan penglihatan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.

Keinginan akan pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.

Awal-pikiran yang tertuju pada pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.

Kelangsungan-pikiran yang tertuju pada pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sana keinginan ini muncul dan mengukuhkan dirinya.’

3. ‘Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia Lenyapnya Penderitaan? Yaitu peluruhan total dan padamnya keinginan ini, melepaskan dan meninggalkan, kebebasan darinya, terlepas darinya. Dan bagaimanakah keinginan ini ditinggalkan, bagaimanakah lenyapnya ini muncul?’ ‘Di mana pun di dunia ini terdapat hal-hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, di sana lenyapnya ini muncul. Dan apakah di dunia ini, hal-hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati?’

‘Mata di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, telinga …, hidung …, lidah …, badan…, pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sanalah keinginan ditinggalkan, di sanalah lenyapnya muncul.

Kesadaran-mata, kesadaran-telinga, kesadaran-hidung, kesadaran-lidah, kesadaran-badan, kesadaran-pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sanalah keinginan ditinggalkan, di sanalah lenyapnya muncul.

Pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sanalah keinginan ditinggalkan, di sanalah lenyapnya muncul.

Kontak-mata, kontak-telinga, kontak-hidung, kontak-lidah, kontak-badan, kontak-pikiran …; Persepsi penglihatan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran …; kehendak sehubungan dengan penglihatan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran …; Keinginan akan pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran …; Awal-pikiran yang tertuju pada pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran …;

Kelangsungan-pikiran yang tertuju pada pemandangan-pemandangan, suara-suara, bau-bauan, rasa-kecapan, objek-objek sentuhan, objek-objek pikiran di dunia ini adalah hal yang menyenangkan dan dapat dinikmati, dan di sanalah keinginan ditinggalkan, di sanalah lenyapnya muncul. Dan itu, para bhikkhu, disebut Lenyapnya Penderitaan.’

5. ‘Dan apakah, para bhikkhu, Kebenaran Mulia Jalan Praktik Menuju Lenyapnya Penderitaan? Yaitu, Jalan Mulia berfaktor Delapan, yaitu: 1.Pandangan Benar, 2.Pikiran Benar, 3.Ucapan Benar, 4.Perbuatan Benar, 5.Penghidupan Benar, 6.Usaha Benar, 7.Perhatian Benar, 8.Konsentrasi Benar.’

1.‘Dan apakah, para bhikkhu, Pandangan Benar? yaitu, para bhikkhu, pengetahuan tentang penderitaan, pengetahuan tentang asal-mula penderitaan, pengetahuan tentang lenyapnya penderitaan, dan pengetahuan tentang praktik menuju lenyapnya penderitaan. Ini disebut Pandangan Benar.

2.‘Dan apakah, para bhikkhu, Pikiran Benar? Pikiran meninggalkan keduniawian, pikiran ketidakbencian, pikiran ketidakkejaman. Ini, para bhikkhu, disebut Pikiran Benar.’

3.‘Dan apakah, para bhikkhu, Ucapan Benar? Menghindari berbohong, menghindari fitnah, menghindari ucapan kasar, menghindari kata-kata yang tidak berguna. Ini disebut Ucapan Benar.’

4.‘Dan apakah, para bhikkhu, Perbuatan Benar? Menghindari pembunuhan, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari melakukan hubungan seksual yang salah. Ini disebut Perbuatan Benar.’

5.‘Dan apakah, para bhikkhu, Penghidupan Benar? Di sini, para bhikkhu, seorang Siswa Ariya, setelah meninggalkan penghidupan salah, mempertahankan hidupnya dengan Penghidupan Benar.’

6.‘Dan apakah, para bhikkhu, Usaha Benar? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu membangkitkan kehendak, mengerahkan daya upaya, menggerakkan usaha, mengerahkan pikirannya dan berusaha untuk mencegah munculnya kondisi batin buruk yang belum muncul. Ia membangkitkan kehendak … dan berusaha untuk mengatasi kondisi batin buruk yang telah muncul. Ia membangkitkan kehendak … dan berusaha untuk memunculkan kondisi batin baik yang belum muncul. Ia membangkitkan kehendak, mengerahkan daya upaya, menggerakkan usaha, mengerahkan pikirannya dan berusaha untuk mempertahankan kondisi batin baik yang telah muncul, tidak membiarkannya memudar, menumbuhkan lebih besar, hingga sempurna dalam pengembangan. Ini disebut Usaha Benar.’

7.‘Dan apakah, para bhikkhu, Perhatian Benar? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, sadar jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan segala keserakahan dan cengkeraman terhadap dunia; ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan …; ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran …; ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, sadar jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan segala keserakahan dan cengkeraman terhadap dunia. Ini disebut Perhatian Benar.’ (Empat Dasar Perhatian Murni)

8.‘Dan apakah, para bhikkhu, Konsentrasi Benar? Para bhikkhu, demikian pula seorang bhikkhu 1.agak bebas dari nafsu indera, bebas dari hal-hal (dhamma) yang tak berguna, ia mencapai dan berada dalam Jhana I yang disertai oleh 2.vitakka (usaha pikiran untuk menangkap obyek), 3.vicara (obyek telah tertangkap oleh pikiran), 4.piti (kegiuran) dan 5.sukha (kebahagian) yang dihasilkan oleh 6.viveka (ketenangan). Ia membuat piti dan sukha yang dihasilkan oleh viveka meresapi, merendami, mengisi dan meliputi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh piti dan sukha yang dihasilkan oleh viveka. Bagaikan seorang pencuci atau pembantunya penumpahkan bubuk pencuci (sabun) ke dalam sebuah baskom logam, sedikit demi sedikit memercikinya dengan air, mengaduknya sehingga air membasahi butir-butir bubuk sabun, merendamnya dan meliputi seluruh bagian luar dan dalam, tetapi bubuk itu tidak menjadi air. Demikian pula, seorang bhikkhu membuat piti dan sukha yang dihasilkan oleh viveka meresapi, meredami, mengisi dan meliputi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh piti dan sukha yang dihasilkan oleh viveka. Karena ia tekun berlatih, rajin …. Dengan cara seperti itu, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian seksama pada jasmani.

Para bhikkhu, demikian pula seorang bhikkhu dengan menghilangkan vitakka dan vicara, ia mencapai dan berada dalam Jhana II disertai kegiuran, kebahagiaan, keyakinan yang kuat dan pikiran terpusat (samadhi), tanpa vitakka dan vicara. Ia membuat piti dan sukha yang dihasilkan oleh 7.samadhi meresapi, merendami, mengisi dan meliputi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh piti dan sukha yang dihasilkan oleh samadhi. Bagaikan sebuah danau bermata air di dasarnya, tanpa air mengalir masuk dari timur, barat, utara atau selatan, juga tanpa tambahan air hujan, maka air dingin dari mata air di dasar danau akan meresapi, merendami, mengisi dan memenuhi seluruh danau, sehingga tidak ada bagian danau yang tidak dipenuhi oleh air dingin. Demikian pula, seorang bhikkhu membuat piti dan sukha yang dihasilkan oleh
samadhi meresapi, merendami, mengisi dan memenuhi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuh yang tidak dipenuhi oleh piti dan sukha yang dihasilkan oleh samadhi. Karena ia tekun berlatih, rajin …. Dengan cara seperti ini, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian seksama pada jasmani.

Para bhikkhu, demikian pula seorang bhikkhu dengan melenyapkan piti, ia diliputi 8.upekha (keseimbangan), penuh 9.sati (perhatian) dan 10.sampajana (pengertian), ia menikmati sukha jasmaniah, ia mencapai dan berada dalam Jhana III, seperti yang dinyatakan oleh para ariya: Ia menikmati sukha yang disertai upekha dan sati. Ia membuat sukha meresapi, merendami, mengisi dan memenuhi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuh yang tidak dipenuhi sukha. Bagaikan sebuah kolam bunga bakung air, kolam bunga teratai putih atau merah, ada beberapa bakung, teratai putih atau merah yang bertunas, bertumbuh, berkembang di bawah permukaan dan tidak muncul di permukaan air, semuanya dari ujung hingga keakar-akarnya diresapi, direndami, diisi dan dipenuhi oleh air dingin, sehingga tidak ada bunga bakung, teratai putih atau merah yang tidak dipenuhi oleh air dingin. Demikian pula, seorang bhikkhu membuat sukha meresapi, merendam, mengisi dan memenuhi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak dipenuhi sukha.
Karena ia tekun berlatih, rajin, … Dengan cara seperti itu, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian seksama pada jasmani.

Para bhikkhu, demikian pula seorang bhikkhu dengan melenyapkan sukha (kebahagiaan) dan 11.dukkha (penderitaan) jasmaniah, yang didahului oleh lenyapnya somanassa (kesenangan batin) dan domanassa (penderitaan batin), ia mencapai dan berada dalam Jhana IV, dengan kondisi bukan menderita maupun bukan menyenangkan, disertai sati dan upekha yang suci. Ia duduk dengan pikiran terang dan suci yang meliputi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh pikiran terang dan suci. Bagaikan seorang yang duduk dibungkus dengan kain putih dari kepalanya sampai ke kakinya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak tertutup oleh kain putih tersebut. Demikian pula, seorang bhikkhu duduk dengan pikiran yang terang dan suci meliputi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh pikiran terang dan suci. Karena ia tekun berlatih, rajin …. Dengan cara seperti itu, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian seksama pada jasmani.

(Kondisi Batin yang harus diterapkan pada saat melaksanakan Empat Dasar Perhatian Murni dan juga bisa diterapkan dalam setiap saat)

Ini disebut Konsentrasi Benar.

Dan itu, para bhikkhu, disebut jalan praktik menuju lenyapnya penderitaan.’

‘Demikianlah ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara internal, merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara eksternal, berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran secara internal dan eksternal. Ia berdiam merenungkan munculnya fenomena dalam objek-objek pikiran, merenungkan lenyapnya fenomena dalam objek-objek pikiran, ia berdiam merenungkan muncul dan lenyapnya fenomena dalam objek-objek pikiran. Atau, penuh perhatian bahwa “ada objek-objek pikiran” muncul dalam dirinya hanya sejauh yang diperlukan bagi pengetahuan dan kesadaran. Dan ia berdiam tanpa bergantung, tidak melekat pada apa pun di dunia ini.

Dan itu, para bhikkhu, adalah bagaimana seorang bhikkhu berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran sehubungan dengan Empat Kebenaran Mulia.’

‘Siapa pun, para bhikkhu, yang mempraktikkan Empat Dasar Perhatian Murni ini selama tujuh tahun dapat mengharapkan satu dari dua hasil ini: mencapai kesucian Arahat dalam kehidupan ini atau, jika masih ada beberapa kekotoran tersisa, mencapai kondisi Yang-Tidak-Kembali.

Jangankan tujuh tahun – siapa pun yang mempraktikkannya selama enam tahun …, lima tahun …, empat tahun …, tiga tahun …, dua tahun …, satu tahun dapat mengharapkan satu dari dua hasil …; jangankan satu tahun-siapa pun yang mempraktikkannya selama tujuh bulan …, enam bulan …, lima bulan …, empat bulan …, tiga bulan …, dua bulan …, satu bulan …, setengah bulan dapat mengharapkan satu dari dua hasil …; jangankan setengah bulan-siapa pun yang mempraktikkan Empat Dasar Perhatian Murni ini selama tujuh hari dapat mengharapkan satu dari dua hasil ini: mencapai kesucian Arahat dalam kehidupan ini atau, jika masih ada beberapa kekotoran tersisa, mencapai kondisi Yang-Tidak-Kembali.’

‘Dikatakan: “Ada, para bhikkhu, salah satu jalan ini untuk memurnikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan kesusahan, untuk melenyapkan kesakitan dan kesedihan, untuk memperoleh jalan yang benar untuk mencapai Nibbāna:-yaitu, empat landasan perhatian murni” dan untuk alasan inilah, hal tersebut dikatakan.’

Demikianlah khotbah Sang Buddha, dan para bhikkhu senang dan gembira mendengar kata-kata Beliau.

-Sutta Pitaka-Digha Nikaya-MAHA VAGGA-22.Maha Satipatthana sutta.
-Diterjemahkan dari bahasa Pali ke bahasa Inggris oleh Maurice O’Connell Walshe.
-Ditata tanpa mengubah isi Sutta supaya mudah dimengerti dan tepat dalam pelaksanaan Ajaran Sang Buddha.

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/mahasatipa%E1%B9%AD%E1%B9%ADhana-sutta/

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 3. Ajaran Utama Buddha Sakyamuni dan tag , , , , , , . Tandai permalink.