Jalan Mulia Beruas Delapan

Lima ratus bhikkhu, setelah mengikuti Sang Buddha ke sebuah desa, pulang ke Vihara Jetavana. Sore harinya mereka berbicara tentang perjalanannya, khususnya bidang keadaan tanah apakah datar atau berbukit, lembek atau berbatu, dan lainnya.

Sang Buddha menghampiri mereka, seraya berkata, “Para bhikkhu, jalan yang kalian bicarakan adalah keadaan di luar diri kalian. Seorang bhikkhu seharusnya hanya terpusat pada ‘jalan utama’ (jalan Ariya) dan berusaha keras berbuat sesuai dengan ‘Jalan Ariya’ yang membimbing kita merealisasi kedamaian abadi (nibbana).”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 273 sampai dengan 276 berikut ini :

Di antara semua jalan,
maka ‘Jalan Mulia Berfaktor Delapan’ adalah yang terbaik;
di antara semua kebenaran,
maka ‘Empat Kebenaran Mulia’ adalah yang terbaik.
Di antara semua keadaan,
maka keadaan tanpa nafsu adalah yang terbaik;
dan di antara semua makhluk hidup,
maka orang yang ‘melihat’ adalah yang terbaik.

Inilah satu-satunya ‘Jalan’.
Tidak ada jalan lain
yang dapat membawa pada kemurnian pandangan.
Ikutilah jalan ini,
yang dapat mengalahkan Mara (penggoda).

Dengan mengikuti ‘Jalan’ ini,
engkau dapat mengakhiri penderitaan.
Dan jalan ini pula
yang Kutunjukkan setelah Aku mengetahui
bagaimana cara mencabut duri-duri (kekotoran batin).

Engkau sendirilah yang harus berusaha,
para Tathagata hanya menunjukkan ‘Jalan’.
Mereka yang tekun bersemadi dan memasuki ‘Jalan’ ini
akan terbebas dari belenggu Mara.

Kelima ratus bhikkhu mencapai tingkat kesucian arahat, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

(Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha(273,274,275,276)

Jalan Mulia Beruas delapan (Ariya Atthangika Magga):

1. Pandangan Benar (Samma Ditthi)

2. Pikiran Benar (Samma Sankappa)

3. Ucapan Benar (Samma Vaca)

4. Perbuatan Benar (Samma Kammanta)

5. Penghidupan Benar (Samma Ajiva)

6. Usaha Benar (Samma Vayama)

7. Perhatian Benar (Samma Sati)

8. Konsentrasi Benar (Samma Samadhi)

Pada ketika itu upasaka Visakha pergi menemui Bhikkhuni Dhammadinna.

“Bhante, apakah tiga kelompok dimasukkan oleh jalan mulia berunsur delapan, atau jalan mulia berunsur delapan dimasukkan oleh tiga kelompok?”

“Saudara Visakha, tiga kelompok tidak dimasukkan oleh jalan mulia berunsur delapan, tetapi jalan mulia berunsur delapan dimasukkan oleh tiga kelompok. Setiap ucapan benar, setiap perbuatan benar dan setiap mata pencaharian benar: dhamma-dhamma ini dimasukkan ke dalam kelompok Moral (Sila), setiap usaha benar, setiap kesadaran (perhatian) benar, setiap konsentrasi benar; dhamma-dhamma ini dimasukkan ke dalam kelompok Meditasi (Samadhi), setiap pandangan benar dan setiap pikiran benar: dhamma-dhamma ini dimasukkan ke dalam kelompok Kebijaksanaan (Panna).”

(Sutta Pitaka-Majjhima Nikaya-44. Cula Vedalla Sutta)

1.Kebijaksanaan (Panna)             : 1.Pandangan Benar

                                                           2.Pikiran Benar.

2.Moral/Kebajikan (Sila)              : 3.Ucapan Benar.

                                                            4.Perbuatan Benar.

                                                            5.Penghidupan / Mata Pencaharian Benar.

3. Meditasi (Samadhi)                    : 6.Usaha Benar.

                                                             7.Perhatian Benar.

                                                             8.Konsentrasi Benar.

1.Pandangan Benar.

Buddha Sakyamuni : ‘Dan apakah, para bhikkhu, Pandangan Benar?  yaitu, para bhikkhu, pengetahuan tentang penderitaan, pengetahuan tentang asal-mula penderitaan, pengetahuan tentang lenyapnya penderitaan, dan pengetahuan tentang praktik menuju lenyapnya penderitaan. Ini disebut Pandangan Benar.’

(Sutta Pitaka-Digha Nikaya-MAHA VAGGA-22.Maha Satipatthana sutta)

 2.Pikiran Benar.

Buddha Sakyamuni : ‘Dan apakah, para bhikkhu, Pikiran Benar? Pikiran meninggalkan keduniawian, pikiran ketidakbencian, pikiran ketidakkejaman. Ini, para bhikkhu, disebut Pikiran Benar.’

(Sutta Pitaka-Digha Nikaya-MAHA VAGGA-22.Maha Satipatthana sutta)

3.Ucapan Benar.

Buddha Sakyamuni : ‘Dan apakah, para bhikkhu, Ucapan Benar? Menghindari berbohong, menghindari fitnah, menghindari ucapan kasar, menghindari kata-kata yang tidak berguna. Ini disebut Ucapan Benar.’

(Sutta Pitaka-Digha Nikaya-MAHA VAGGA-22.Maha Satipatthana sutta)

Buddha Sakyamuni : Jika ucapan memiliki lima tanda, para bhikkhu, berarti ucapan itu disampaikan dengan baik, tidak disampaikan dengan buruk, tak-ternoda dan tak-tercela oleh para bijaksana. Apakah lima tanda ini?
Itulah ucapan yang tepat waktu, benar, lembut, bertujuan, dan diucapkan dengan pikiran yang dipenuhi cinta kasih.

(Sutta Pitaka-Anguttara Nikaya-5.Pancaka(V, 198)

4.Perbuatan Benar.

Buddha Sakyamuni : ‘Dan apakah, para bhikkhu, Perbuatan Benar? Menghindari pembunuhan, menghindari mengambil apa yang tidak diberikan, menghindari melakukan hubungan seksual yang salah. Ini disebut Perbuatan Benar.’

(Sutta Pitaka-Digha Nikaya-MAHA VAGGA-22.Maha Satipatthana sutta)

5.Penghidupan / Mata Pencaharian Benar.

Buddha Sakyamuni : “Dan apa penghidupan salah itu? penipuan, ketidak setiaan, penujuman, kecurangan, memberikan pinjaman dengan pengembalian yang tinggi (lintah darat)

(Sutta Pitaka-Majjhima Nikaya-ANUPADA VAGGA-117. Maha Cattarisaka sutta)

Buddha Sakyamuni : Inilah, para bhikkhu, lima perdagangan yang seharusnya tidak dijalankan oleh seorang pengikut awam: berdagang senjata, berdagang makhluk hidup, berdagang daging, berdagang benda-benda yang memabukkan, berdagang racun.

(Sutta Pitaka-Anguttara Nikaya-Pancaka (V, 177)

6.Usaha Benar.

Buddha Sakyamuni : ‘Dan apakah, para bhikkhu, Usaha Benar? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu membangkitkan kehendak, mengerahkan daya upaya, menggerakkan usaha, mengerahkan pikirannya dan berusaha untuk mencegah munculnya kondisi batin buruk yang belum muncul. Ia membangkitkan kehendak … dan berusaha untuk mengatasi kondisi batin buruk yang telah muncul. Ia membangkitkan kehendak … dan berusaha untuk memunculkan kondisi batin baik yang belum muncul. Ia membangkitkan kehendak, mengerahkan daya upaya, menggerakkan usaha, mengerahkan pikirannya dan berusaha untuk mempertahankan kondisi batin baik yang telah muncul, tidak membiarkannya memudar, menumbuhkan lebih besar, hingga sempurna dalam pengembangan. Ini disebut Usaha Benar.’

(Sutta Pitaka-Digha Nikaya-MAHA VAGGA-22.Maha Satipatthana sutta)

 7.Perhatian Benar.

Buddha Sakyamuni : ‘Dan apakah, para bhikkhu, Perhatian Benar? Di sini, para bhikkhu, seorang bhikkhu berdiam merenungkan jasmani sebagai jasmani, tekun, sadar jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan segala keserakahan dan cengkeraman terhadap dunia; ia berdiam merenungkan perasaan sebagai perasaan …; ia berdiam merenungkan pikiran sebagai pikiran …; ia berdiam merenungkan objek-objek pikiran sebagai objek-objek pikiran, tekun, sadar jernih dan penuh perhatian, setelah menyingkirkan segala keserakahan dan cengkeraman terhadap dunia. Ini disebut Perhatian Benar.’

(Empat Dasar Perhatian Murni, satu jalan ini untuk mensucikan makhluk-makhluk, untuk mengatasi dukacita dan kesusahan, untuk melenyapkan kesakitan dan kesedihan, untuk memperoleh jalan benar, untuk mencapai Nibbana)

(Sutta Pitaka-Digha Nikaya-MAHA VAGGA-22.Maha Satipatthana sutta)

8.Konsentrasi Benar.

Buddha Sakyamuni : Para bhikkhu, demikian pula seorang bhikkhu 1.agak bebas dari nafsu indera, bebas dari hal-hal (dhamma) yang tak berguna, ia mencapai dan berada dalam Jhana I yang disertai oleh 2.vitakka (usaha pikiran untuk menangkap obyek), 3.vicara (obyek telah tertangkap oleh pikiran), 4.piti (kegiuran) dan 5.sukha (kebahagian) yang dihasilkan oleh 6.viveka (ketenangan). Ia membuat piti dan sukha yang dihasilkan oleh viveka meresapi, merendami, mengisi dan meliputi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh piti dan sukha yang dihasilkan oleh viveka. Bagaikan seorang pencuci atau pembantunya penumpahkan bubuk pencuci (sabun) ke dalam sebuah baskom logam, sedikit demi sedikit memercikinya dengan air, mengaduknya sehingga air membasahi butir-butir bubuk sabun, merendamnya dan meliputi seluruh bagian luar dan dalam, tetapi bubuk itu tidak menjadi air. Demikian pula, seorang bhikkhu membuat piti dan sukha yang dihasilkan oleh viveka meresapi, meredami, mengisi dan meliputi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh piti dan sukha yang dihasilkan oleh viveka. Karena ia tekun berlatih, rajin …. Dengan cara seperti itu, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian seksama pada jasmani.

Para bhikkhu, demikian pula seorang bhikkhu dengan menghilangkan vitakka dan vicara, ia mencapai dan berada dalam Jhana II disertai kegiuran, kebahagiaan, keyakinan yang kuat dan pikiran terpusat (samadhi), tanpa vitakka dan vicara. Ia membuat piti dan sukha yang dihasilkan oleh 7.samadhi meresapi, merendami, mengisi dan meliputi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh piti dan sukha yang dihasilkan oleh samadhi. Bagaikan sebuah danau bermata air di dasarnya, tanpa air mengalir masuk dari timur, barat, utara atau selatan, juga tanpa tambahan air hujan, maka air dingin dari mata air di dasar danau akan meresapi, merendami, mengisi dan memenuhi seluruh danau, sehingga tidak ada bagian danau yang tidak dipenuhi oleh air dingin. Demikian pula, seorang bhikkhu membuat piti dan sukha yang dihasilkan oleh
samadhi meresapi, merendami, mengisi dan memenuhi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuh yang tidak dipenuhi oleh piti dan sukha yang dihasilkan oleh samadhi. Karena ia tekun berlatih, rajin …. Dengan cara seperti ini, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian seksama pada jasmani.

Para bhikkhu, demikian pula seorang bhikkhu dengan melenyapkan piti, ia diliputi 8.upekha (keseimbangan), penuh 9.sati (perhatian) dan 10.sampajana (pengertian), ia menikmati sukha jasmaniah, ia mencapai dan berada dalam Jhana III, seperti yang dinyatakan oleh para ariya: Ia menikmati sukha yang disertai upekha dan sati. Ia membuat sukha meresapi, merendami, mengisi dan memenuhi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuh yang tidak dipenuhi sukha. Bagaikan sebuah kolam bunga bakung air, kolam bunga teratai putih atau merah, ada beberapa bakung, teratai putih atau merah yang bertunas, bertumbuh, berkembang di bawah permukaan dan tidak muncul di permukaan air, semuanya dari ujung hingga keakar-akarnya
diresapi, direndami, diisi dan dipenuhi oleh air dingin, sehingga tidak ada bunga bakung, teratai putih atau merah yang tidak dipenuhi oleh air dingin. Demikian pula, seorang bhikkhu membuat sukha meresapi, merendam, mengisi dan memenuhi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak dipenuhi sukha.
Karena ia tekun berlatih, rajin, … Dengan cara seperti itu, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian seksama pada jasmani.

Para bhikkhu, demikian pula seorang bhikkhu dengan melenyapkan sukha (kebahagiaan) dan 11.dukkha (penderitaan) jasmaniah, yang didahului oleh lenyapnya somanassa (kesenangan batin) dan domanassa (penderitaan batin), ia mencapai dan berada dalam Jhana IV, dengan kondisi bukan menderita maupun bukan menyenangkan, disertai sati dan upekha yang suci. Ia duduk dengan pikiran terang dan suci yang meliputi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh pikiran terang dan suci. Bagaikan seorang yang duduk dibungkus dengan kain putih dari kepalanya sampai ke kakinya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak tertutup oleh kain putih tersebut. Demikian pula, seorang bhikkhu duduk dengan pikiran yang terang dan suci meliputi seluruh tubuhnya, sehingga tidak ada bagian tubuhnya yang tidak diliputi oleh pikiran terang dan suci. Karena ia tekun berlatih, rajin …. Dengan cara seperti itu, seorang bhikkhu mengembangkan perhatian seksama pada jasmani.

(Kondisi Batin yang harus diterapkan pada saat melaksanakan Empat Dasar Perhatian Murni dan juga bisa diterapkan dalam setiap saat)

(Sutta Pitaka-Majjhima Nikaya-ANUPADA VAGGA-119.Kayagatasati Sutta)

 

EMPAT PENCAPAIAN YANG ISTIMEWA

Kemudian Ananda mendekati Sang Bhagava dan setelah memberi hormat, duduk pada salah satu sisi. Kemudian Ananda berkata kepada Sang Bhagava: “Bhante, di Nadika ini bhikkhu Salha dan bhikkhu Nanda telah meninggal. Juga yang telah meninggal adalah upasaka Sudatta, upasika Sujata serta beberapa upasaka lain yaitu Kakhuda, Kalinga, Nikata, Katissabha, Tuttho, Santuttha, Bhadda dan Subhadda. Bagaimanakah nasib mereka? Bagaimanakah keadaan tumimbal lahir mereka?”

“Ananda, mengenai bhikkhu Salha, ia dengan melenyapkan kekotoran-kekotoran bathinnya selama hidupnya itu, maka ia telah memperoleh kebebasan batiniah dari noda, telah mendapatkan kebebasan melalui kebijaksanaan, dan hal itu telah dipahami dan disadarinya sendiri(Arahat). Mengenai bhikkhu Nanda, dengan menghancurkan lima belenggu yang lebih rendah (belenggu yang mengikat mahluk-mahluk di alam nafsu), dan menghancurkan keinginan untuk hidup di alam yang bermateri halus (alam dewa), ia telah mencapai perhentian yang terakhir dalam kehidupan yang sekarang ini dan tak akan kembali lagi di dunia ini(Anagami). Mengenai upasaka Sudatta, ia telah menghancurkan tiga belenggu (pandangan salah diri yang abadi didunia, keragu-raguan terhadap ajaran hukum karma dan keterikatan akan upacara dan ritual), mengurangi hawa nafsu dan kebencian, telah menjadi seorang yang hanya dilahirkan sekali lagi(Sakadagami); untuk mengakhiri penderitaannya, ia akan dilahirkan kembali sekali lagi di dunia ini. Mengenai upasika Sujata, dengan menghancurkan Tiga Belenggu, ia telah mencapai tingkat Sotapanna, dan telah bebas dari bahaya jatuh ke dalam keadaan yang buruk, telah terjamin dan siap untuk mencapai kesempurnaan. Mengenai upasaka Kakhuda, dengan menghancurkan lima belenggu yang rendah (yang mengikat mahluk-mahluk di alam nafsu) dan telah menghancurkan keinginan untuk hidup di alam dewa (kama loka), tidak terlahir kembali di dunia ini dan pasti akan mencapai nibbana(Sakadagami). Demikian pula halnya dengan Kalingga, Nikata, Katissabha, Tuttho, Santuttha, Bhadda dan Subhadda, beserta lebih dari lima puluh orang di Nadika. Lebih dari sembilan puluh orang telah wafat di Nadika, dengan menghancurkan Ketiga Belenggu dan pengurangan hawa nafsu, kebencian dan khayalan, telah menjadi seorang yang akan Dilahirkan Sekali lagi (Sakadagami) dan telah siap mencapai akhir dari penderitaannya dalam kelahirannya kembali yang sekali lagi di dunia ini. Lebih dari lima ratus orang yang telah wafat di Nadika, dengan melenyapkan tiga belenggu, mereka adalah para sotapanna dan telah bebas dari kelahiran kembali di alam penderitaan, yang pasti akan mencapai penerangan sempurna (bodhi).”

(Sutta Pitaka-Digha Nikaya-MAHA VAGGA-16.Maha Parinibbana Sutta)

Referensi dan Sumber :

Penyusun : Pandita S. Widyadharma

BAB II – AJARAN SANG BUDDHA.

http://www.samaggi-phala.or.id/naskah-dhamma/bab-ii-ajaran-sang-buddha/

 

-Tripitaka Pali dan Dhammapadda Atthakatha.

http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 3. Ajaran Utama Buddha Sakyamuni dan tag , , , , , , . Tandai permalink.