Kebijaksanaan dan Kerisauan

Master Cheng Yen Bercerita :
Kebijaksanaan dan kerisauan itu bagaikan dua lengan dari sebuah timbangan neraca — jika kerisauan lebih banyak, kebijaksanaan akan lebih sedikit; sebaliknya jika kerisauan lebih ringan, kebijaksanaan akan lebih berat. Jika kita mampu membuka pintu hati kita dan lebih peduli pada masyarakat banyak, dalam hati kita tentu tiada lagi ruang yang tersisa untuk memuat kerisauan. Tujuan dari pelatihan diri adalah belajar bagaimana menghapus kerisauan dan mendapatkan batin yang tenang. Jika batin berada dalam kondisi tenang, dengan sendirinya kondisi luar akan terlihat dengan jelas; namun jika batin tidak tenang, kondisi luar akan ikut menjadi kacau.

Hati tenang melahirkan kebijaksanaan, memotong kayu atau mengambil air adalah meditasi

Ada sebuah cerita — ada seseorang yang kehilangan sebuah jam tangan yang berharga mahal dan membuat hatinya panik sekali, dia segera meminta semua orang yang ada untuk membantu cari. Terlihat banyak sekali orang yang antusias untuk membantunya, tetapi setelah mengobrak-abrik berbagai sudut ruangan, tetap saja mereka tidak bisa menemukan jam tangan tersebut, sehingga pada akhirnya semuanya kelelahan dan terpaksa beristirahat. Pemilik jam tangan pun merasa sedih bercampur cemas, namun pada saat ini ada seorang pemuda yang mengajukan diri untuk seorang diri mencarinya.

Dia meminta semua orang untuk menunggu di luar ruangan, lalu sendirian masuk ke dalam ruangan dan duduk diam tanpa bergerak sedikit pun. Semua orang merasa sangat heran — Dia sedang mencari sesuatu, namun mengapa belum ada tindakan? Oleh karena itu, semua orang dengan tenang memperhatikan pemuda itu dan ingin tahu apa yang akan dilakukannya. Setelah duduk beberapa saat, pemuda itu tiba-tiba berdiri dan menyelusup ke bawah tempat tidur, ketika keluar ternyata jam tangan sudah ditemukannya. Semua orang dengan bersemangat bertanya: “Bagaimana anda bisa tahu kalau jam tangan ada di bawah tempat tidur?” Dia menjawab: “Ketika hati berada dalam kondisi tenang, dengan sendirinya akan bisa mendengar suara detak jam tangan dan tahu di mana jam tangan berada.”

Ketika kita menenangkan hati, kita akan mampu mendengarkan banyak suara di luar sana, ada suara mobil berlalu lalang, suara pesawat udara di langit, suara serangga dan burung di luar jendela, dan seterusnya, ini dikarenakan hati yang tenang akan lebih sensitif, sehingga mampu membedakan lingkungan luar dengan jelas. Apalagi kalau bisa lebih bersungguh hati lagi dalam ketenangan hati ini, maka kebijaksanaan akan lahir darinya, itulah yang dimaksud dengan perhatian benar (Samma-sati) dan konsentrasi benar (Samma-samadhi).

Konsentrasi benar menunjukkan bahwa dalam batin tiada pikiran sesat dan tiada kerisauan. Dalam beberapa tahun terakhir ini ada banyak orang yang suka belajar meditasi, padahal dalam kehidupan sehari-hari, baik itu memotong kayu atau mengambil air, semuanya adalah pelatihan meditasi. Sebagai contoh: Dahulu kala ada seorang samanera cilik yang sejak kecil membina diri dalam sebuah vihara, samanera cilik ini sangat rajin dan selalu bergiliran kerja dengan semua orang di dalam vihara, jika tidak menanam sayur di kebun, dia tentu sedang bekerja di dapur.

Suatu hari, ketika samanera cilik sedang meletakkan mangkuk dan sumpit di dapur, biksu tua datang melihat dan bertanya kepadanya: “Samanera cilik, apa yang sedang kamu lakukan?” Samanera cilik menjawab: “Saya sedang menyusun mangkuk dan sumpit.” Biksu tua kembali bertanya: “Apa yang sedang kamu pikirkan di dalam hati?”  Samanera cilik menjawab: “Saya tidak memikirkan apa-apa.”

Biksu tua berkata: “Sayang sekali! Jika kamu berpikir ‘Saya sedang menjalin jodoh baik dengan semua orang’, lalu menyusun mangkuk dan sumpit dengan hati penuh sukacita, maka nanti ketika banyak orang yang datang untuk makan, berarti kamu sudah menjalin jodoh baik dengan semua orang, inilah yang dimaksud dengan usaha giat benar (Samma-vayama).”

Cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa asal memiliki niat, maka setiap saat adalah kesempatan baik untuk melatih diri. Jadi, dalam memperlakukan orang atau menangani masalah, kita harus tahu berpuas hati, bersyukur, berpengertian dan bertenggang rasa; jika kita bisa demikian, hati tentu akan tenang dan damai dengan sendirinya, sehingga kebijaksanaan dan samadhi akan datang sendiri tanpa perlu dicari lagi.

※ Artikel ini dikutip dari harian “Economic Daily”

Sumber : Grup yahoo Tzu Chi hqselatan kiriman Januar Timur januartt@gmail.com

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 7. Kisah Dharma dan tag , , . Tandai permalink.