Anak Laki-laki dan Gelangnya

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Waktu mendatangkan perubahan. Di dunia ini, jalinan jodoh dan kondisi terus berubah. Saya yang 50 tahun lalu dengan saya yang sekarang, manakah saya yang sesungguhnya Sesungguhnya, saya yang tua adalah saya, tetapi saya yang masih muda di 50 tahun lalu juga adalah saya. Anak kecil di masa kanak-kanak saya juga adalah saya.

Singkat kata, ada banyak “saya”. Karena itu, seiring perubahan kondisi dan berlalunya waktu, kita juga harus berubah. Dengan begitu, baru pikiran kita tidak akan terikat oleh masa lalu. Jika pikiran kita tidak berubah sesuai jalinan jodoh, maka kita akan terikat oleh masa lalu. Jadi, kita harus berubah seiring waktu berlalu. Seiring waktu berlalu, kita juga harus mengubah diri.

Akan tetapi, arah kita harus sangat tepat. Kondisi luar dan hubungan antarsesama dapat membuat hati kita merasa sedih dan risau. Saat berpisah dengan orang yang dikasihi atau kehilangan anak, kita merasakan penderitaan yang tak terkira. Saat bertemu dengan masalah, hati kita harus senantiasa damai. Memiliki kondisi batin yang damai sangatlah penting.

Di dalam hidup ini, kita tak memiliki hak milik yang seutuhnya. Saat sesuatu terjadi, baik jalinan jodoh baik ataupun buruk, kita harus menerimanya dengan sukarela. Saat jalinan jodoh baik berakhir, meski merasa kehilangan, kita tetap harus bersyukur dan mendoakan. Saat jalinan jodoh berakhir, kita harus segera mendoakan mereka.

Waktu berlalu dengan sangat cepat. Waktu mendatangkan perubahan. Di dunia ini, jalinan jodoh dan kondisi terus berubah. Saya yang 50 tahun lalu dengan saya yang sekarang, manakah saya yang sesungguhnya Sesungguhnya, saya yang tua adalah saya, tetapi saya yang masih muda di 50 tahun lalu juga adalah saya. Anak kecil di masa kanak-kanak saya juga adalah saya. Singkat kata, ada banyak “saya”. Karena itu, seiring perubahan kondisi dan berlalunya waktu, kita juga harus berubah. Dengan begitu, baru pikiran kita tidak akan terikat oleh masa lalu. Jika pikiran kita tidak berubah sesuai jalinan jodoh, maka kita akan terikat oleh masa lalu. Jadi, kita harus berubah seiring waktu berlalu. Seiring waktu berlalu, kita juga harus mengubah diri. Akan tetapi, arah kita harus sangat tepat. Kondisi luar dan hubungan antarsesama dapat membuat hati kita merasa sedih dan risau. Saat berpisah dengan orang yang dikasihi atau kehilangan anak, kita merasakan penderitaan yang tak terkira. Saat bertemu dengan masalah, hati kita harus senantiasa damai. Memiliki kondisi batin yang damai sangatlah penting. Di dalam hidup ini, kita tak memiliki hak milik yang seutuhnya. Saat sesuatu terjadi, baik jalinan jodoh baik ataupun buruk, kita harus menerimanya dengan sukarela. Saat jalinan jodoh baik berakhir, meski merasa kehilangan, kita tetap harus bersyukur dan mendoakan. Saat jalinan jodoh berakhir, kita harus segera mendoakan mereka.

Kita harus memiliki kebijaksanaan. Jika enggan menerima kenyataan yang terjadi di dunia, maka hidup  kita akan sangat menderita. Jadi, seiring berlalunya waktu, kita juga harus belajar menyesuaikan diri dan menyelaraskan pikiran.

Ada seorang Paman Baskom yang tidak memiliki anak. Karena itu, dia dan istrinya mengadopsi seorang anak laki-laki dari saudaranya. Mereka sangat menyayangi anak tersebut. Saat anak laki-laki itu berusia enam tahun, seorang peramal memberi tahu Paman Baskom, “Anak Anda ini sangat pintar, tetapi sayangnya umurnya mungkin tak dapat lewat 15 tahun.”

Paman Baskom sangat terkejut dan bertanya, “Apa yang harus kami lakukan?” “Kalian bisa mengenakan gelang perak padanya.” Mereka lalu mengenakan gelang perak pada kaki dan tangan anak tersebut. Anak itu sangat berprestasi di sekolah. Orang tuanya sangat gembira dan menyayanginya.

cermas48-2

Seiring pertumbuhannya, orang tuanya pun menggantikan gelang yang lebih besar. Namun, karena mengenakan gelang, dia sering ditertawakan oleh teman-temannya. Karena itu, dia sering mengikatkan sehelai sapu tangan pada lengannya.  Hingga saat berusia 16 tahun, dia berkata kepada orang tuanya, “Saya merasa sangat malu. Orang-orang bertanya kepada saya mengapa saya mengikatkan sebuah sapu tangan pada lengan saya.”

Dia meminta kepada orang tuanya agar melepaskan gelang itu. Orang tuanya pun berpikir, “Saat itu, sang peramal mengatakan bahwa anak kita tak dapat hidup lewat 15 tahun. Kini dia sudah berusia 16 tahun, bahkan sebentar lagi 17 tahun. Seorang anak laki-laki mengenakan gelang memang tidak enak dilihat.” Mereka pun setuju melepaskan gelang tersebut.

Beberapa waktu kemudian, anak laki-laki itu meninggal dunia tanpa diketahui penyebabnya. Orang tuanya merasa sangat kehilangan dan menderita. Mereka tidak dapat tidur di malam hari. Setiap hari mereka berlinang air mata dan merasa sangat sedih. Paman Baskom sering minum teh bersama teman-temannya. Teman-temannya juga berusaha menasihatinya, tetapi selalu tidak berhasil.

Suatu hari, Paman Baskom kembali minum teh bersama teman-temannya. Teman-temannya bertanya, “Kak Baskom, bagaimana kabarmu sekarang?” Dia menjawab, “Saya sudah bisa menerimanya. Itu adalah utang karma kami. Saya sudah dapat menerimanya.” Teman-temannya bertanya, “Mengapa sekarang kamu dapat menerimanya?” Dia menjawab, “Kemarin malam saya bermimpi.” “Apa yang kamu mimpikan?”

cermas48-3

Paman Baskom bercerita bahwa dia bermimpi tentang sebuah tempat yang mengerikan dan terdapat banyak orang yang bermuka masam. Dari kejauhan, dia melihat seorang anak muda yang merupakan anaknya. Karena itu, dia terus berlari dan memanggil anaknya. Anaknya menoleh dan melihatnya dengan tatapan penuh kebencian.

Paman Baskom bertanya, “Kamu sudah tidak mengenali ayahmu? Saya begitu menyayangimu, mengapa kamu jadi seperti ini?” Anaknya menjawab, “Saya hanya berutang padamu selama 15 tahun. Namun, kamu malah mengunci saya dengan gelang selama hampir 17 tahun sehingga saya tak dapat terbebas. Kini jalinan jodoh baik telah menjauh dari saya sehingga saya harus berada di sini.”

Setelah berkata demikian, anaknya mengambil sebuah tongkat dan ingin memukulnya. Paman Baskom berbalik badan dan terus berlari. Lalu, dia terjatuh dan terjaga. Dia menceritakan mimpinya kepada istrinya dan berkata, “Kita berutang padanya. Kita jangan bersedih lagi untuknya. Kita telah ‘menguncinya’ selama bertahun-tahun. Kini kita harus mengikhlaskannya dan berpikiran lebih terbuka.”

Ini kisah yang dahulu pernah saya ceritakan. Hari ini saya kembali menceritakannya. Ada orang berkata bahwa orang yang lanjut usia selalu menceritakan kisah masa lalu. Akan tetapi, bagi saya, kisah ini meninggalkan kesan yang mendalam. Lihatlah jalinan jodoh di antara ayah dan anak itu. Meski itu bukan anak kandungnya, tetapi Paman Baskom sangat menyayanginya.

Saat jalinan jodoh matang, kita harus menerimanya dengan sukacita. Saat jalinan jodoh berakhir, kita harus bersyukur dan mendoakan. Kita harus memiliki pola pikir seperti ini. Seperti apa pun jalinan jodoh yang dimiliki, kita tak memiliki hak milik atasnya. Yang dapat kita lakukan adalah saling mengasihi antarsesama.

Karena itu, kita harus berpandangan terbuka. Jangan membiarkan pikiran kita terikat oleh masalah kemarin. Tak peduli bagaimana jalinan jodoh dan kondisi luar, kita harus menjaga pikiran agar senantiasa murni dan bebas dari noda batin. Kita tidak tahu berapa lama kehidupan kita. Akan tetapi, dalam hidup ini, kita harus memanfaatkan setiap detik dengan baik.

Kita harus membangkitkan tekad pada momen ini dan mempertahankannya hingga selamanya. Dengan mempertahankan tekad ini selamanya, maka benih kita ini akan terus diwariskan selamanya. Jadi, kita harus memanfaatkan waktu dengan baik.

Sumber : http://www.tzuchi.or.id/ruang-master/master-bercerita/anak-laki-laki-dan-gelangnya/12862

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 7. Kisah Dharma dan tag , , , . Tandai permalink.