Empat Kali Mengambil Permata (Master Cheng Yen Bercerita)

Saat enam indra kita bersentuhan dengan kondisi luar, sering timbul  pikiran yang membeda-bedakan. Enam indra meliputi mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran. Telinga dapat mendengar suara, mata dapat melihat, hidung dapat membedakan aroma harum atau bau, lidah dapat merasakan makanan keras atau lunak, tubuh dapat merasakan dingin atau panas. Itu semua karena indra kita bersentuhan dengan kondisi luar.

Karena sentuhan itu, timbullah pikiran yang membeda-bedakan. Lalu, kita akan mulai berpikir untuk melakukan perbuatan. Saat pikiran tidak lurus, kita akan mudah menciptakan karma buruk. Jadi,  saat pikiran bersentuhan dengan objek luar, kita akan mulai berpikir untuk melakukan perbuatan.

Jadi, kita hendaknya selalu memperhatikan pikiran kita. Karena itu, saya sering berkata bahwa kita harus bersungguh hati dan berhati-hati. Jika tidak bersungguh hati dan tidak menjaga pikiran dengan baik, pikiran kita akan menyimpang. Jika pikiran menyimpang, kita akan menciptakan karma buruk.

Karena itu, kita harus sangat berhati-hati. Yang dimaksud dengan berhati-hati adalah berkonsentrasi. Artinya, kita harus sangat berfokus dan berhati-hati. Hati kita harus selalu berfokus. Jadi, kita hendaknya selalu bersungguh hati.

mbc034-1-1

Ada seorang raja yang sangat memercayai ajaran brahmana. Dia adalah pengikut brahmana yang taat. Dia sangat menghormati praktisi brahmana seperti umat Buddha yang sangat menghormati bhiksu/bhiksuni. Suatu ketika, sang raja berpikir untuk berdana besar-besaran bagi orang yang hidup kekurangan. Dia lalu memberi perintah untuk membuka gudang harta dan mengeluarkan pengumuman.

Selama waktu tujuh hari, gudang harta istana akan dibuka. Siapa pun yang membutuhkan boleh datang mengambil. Pada hari ketiga, datanglah seorang brahmana. Raja berkata kepadanya, “Kamu boleh memilih satu ikat permata yang kamu inginkan.” Brahmana itu sangat gembira. Dia mengambil sekarung permata, lalu pergi meninggalkan tempat itu.

Setelah berjalan tujuh langkah, dia berbalik dan mengembalikan permata itu ke tempat semula. Sang raja bertanya kepadanya, “Kenapa kamu mengembalikannya?” Brahmana itu berkata, “Saya mengambil permata ini untuk membangun sebuah rumah. Setelah rumah dibangun, saya akan berkeluarga. Namun, permata ini tidaklah cukup. Lebih baik saya tidak mengambilnya.”

mbc034-2

Sang raja kembali berkata, “Jika kamu ingin menikah, ambillah tiga ikat permata.” Brahmana itu membuka karungnya dan mengambil 3 ikat permata. Namun, setelah berjalan 7 langkah, dia kembali berhenti dan mengembalikan permata itu. Dia berkata, “Setelah memiliki rumah dan berkeluarga, saya harus menghidupi keluarga. Saya membutuhkan sebidang lahan dan seorang pelayan. Permata ini tidaklah cukup. Jadi, saya ingin mengembalikannya kepada Paduka.”

Raja berkata, “Jika demikian, kamu bawalah 7 ikat permata.” Setelah berjalan 7 langkah, dia kembali dan berkata, “Lebih baik saya tidak mengambilnya. Setelah memiliki rumah, istri, dan ladang, saya juga akan memiliki anak. Setelah anak-anak saya berkeluarga, jika kehidupan mereka baik, saya tidak perlu khawatir. Namun, jika kehidupan mereka tidak baik, saya juga harus membantu mereka. Banyak sekali yang harus dikhawatirkan, lebih baik saya tidak mengambilnya.”

Raja lalu berkata, “Kamu boleh mengambilnya hingga merasa cukup.” Brahmana itu lalu mengambil semua permata di sana, lalu melangkah pergi. “Lebih baik saya tidak mengambilnya. Meski Paduka memberi banyak kepada saya, Meski Paduka memberi banyak kepada saya, tetapi sesungguhnya berapa lama kehidupan manusia? Segala sesuatu di dunia adalah tidak kekal. Nafsu keinginan manusia tidak pernah terpenuhi selamanya. Meski rencana kita sangat banyak, tetapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Karena itu, saya tidak menginginkan apa pun lagi.”

Sang raja merasa kondisi batin brahmana tersebut sungguh tinggi dan tiada tara. Saat raja ingin bertanya lebih lanjut, brahmana itu kembali ke wujud aslinya, yaitu Buddha Sakyamuni. Beliau datang untuk membimbing raja tersebut. Sang raja segera berlindung kepada Dharma dan berguru kepada Buddha. Raja bahkan membabarkan ajaran Buddha kepada para rakyat di negerinya.

mbc034-3

Dalam keseharian, kita harus sangat bersungguh hati. Jika tidak bersungguh hati, terkadang pikiran kita akan bergejolak. Contohnya Buddha yang bermanifestasi sebagai brahmana untuk membabarkan Dharma. Awalnya, brahmana itu menginginkan sebuah rumah dan ingin berkeluarga.

Setelah berkeluarga, dia ingin memiliki ladang dan pelayan. Setelah memiliki ladang, pelayan, dan setelah berkeluarga, dia akan memiliki anak. Dia tidak tahu berapa anak yang akan dia miliki kelak. Jika kondisi hidup anak-anak kurang baik, dia masih harus membantu mereka.

Demikianlah manusia terus mengejar nafsu keinginan tanpa henti. Pikiran yang bergejolak mendorong kita menciptakan karma buruk demi mengejar segala yang kita inginkan. Karena itu, ada ungkapan berbunyi, “Pikiran manusia bagaikan pelukis yang dapat melukis segala yang diinginkan.” Semua itu bersumber dari pikiran.

Contohnya sebutir padi. Benih padi harus disemai hingga bertunas, barulah bisa ditanam. Tunas harus ditanam di tanah, baru ia bisa bertumbuh menjadi padi dan kembali menghasilkan bibit. Ini adalah prinsip yang sama. Pikiran kita juga terus berkembang seperti itu. Saat bertemu dengan kondisi luar, pikiran kita akan bergejolak dan akan terus terjerumus hingga menciptakan banyak karma buruk.

Saudara sekalian, kita sungguh harus memperhatikan hal ini. Saat bertemu dengan kondisi luar, kita harus merenung secara mendalam.

Pikiran kita bagaikan sebuah cermin besar yang dapat memantulkan segala sesuatu dengan sangat jelas. Apabila cermin itu kotor, maka kondisi yang terpantul akan tidak jelas.

Saudara sekalian, pada saat enam indra kita bersentuhan dengan kondisi luar, kita harus bisa memilahnya. Indra pikiran harus dijaga dengan baik agar kita tidak berjalan menyimpang. Jadi, kita harus selalu bersungguh hati dan memperhatikan kondisi pikiran kita.

Sumber : http://www.tzuchi.or.id/ruang-master/master-bercerita/empat-kali-mengambil-permata/12870

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 7. Kisah Dharma dan tag , , , . Tandai permalink.