Hikmah dari Sebaskom Air (Master Cheng Yen Bercerita)

Dengan hati yang lapang, kita dapat merangkul segala sesuatu di dunia tanpa ada keluh kesah dan penyesalan. Pikiran yang murni adalah kondisi batin yang paling benar, bajik, dan indah. Inilah kehidupan yang kita kejar, yakni kondisi yang benar, bajik, dan indah.

Kadang kala, ketika kita mengerjakan sesuatu dengan kurang baik atau tidak selesai, kita akan berkata, “Saya merasa bersalah dan malu.” Saat melihat orang berkemampuan lebih baik dari kita, kita juga akan berkata, “Saya merasa malu.” Kita hendaknya selalu memiliki rasa malu. Jika bisa selalu membangkitkan rasa malu dan bertobat, maka kesalahan kita akan lebih berkurang dan pahala kita akan berkembang menjadi tak terhingga.

Kita harus bertobat atas kesalahan masa lalu dan berusaha tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jadi, kita hendaknya jangan menutupi kesalahan. Jika menutupi kesalahan, maka itu tidak akan membawa manfaat bagi diri kita. Contohnya, sebuah kotak yang pernah diisi dengan barang kotor, kita harus segera membersihkannya. Kita harus segera membersihkan kotak itu. Setelah kotak itu dibersihkan, baru kita dapat menggunakannya kembali.

mcer031-1

Saya pernah menceritakan kisah ini kepada kalian. Sejak masih belia, Rahula sudah dibimbing oleh ayahnya, Buddha Sakyamuni, untuk menjadi bhiksu. Namun, Rahula sangat nakal. Terkadang, Buddha tidak ada di vihara. Saat ada orang bertemu Rahula dan bertanya, “Apakah Buddha ada di vihara?”, Rahula akan menjawab, “Ada, Buddha ada di vihara.” Ketika tiba di vihara, mereka baru tahu bahwa Buddha tidak ada di vihara.

Kadang kala, saat ada orang bertanya kepada Rahula, “Di manakah Buddha sekarang?” Meski Buddha ada di vihara, Rahula malah berkata kepada orang, “Buddha sedang melakukan perjalanan.” Melihat orang tidak bertemu dengan Buddha, Rahula merasa sangat gembira. Rahula tidak berniat buruk, hanya suka mengusili orang lain.

Ketika bhiksu lain mengetahui hal ini, mereka merasa perbuatan seperti itu tidaklah benar. Rahula telah berbohong dan mengusili orang lain. Jika anak-anak memiliki tabiat buruk ini, kelak akan sangat merepotkan. Mereka lalu bercerita kepada Buddha tentang tabiat buruk Rahula. Buddha memanggil Rahula dan berkata, “Aku baru selesai melakukan perjalanan. Kamu ambilkan sebaskom air untuk-Ku.” Rahula kemudian mengambil sebaskom air untuk Buddha.

mcer031-2

Setelah mencuci kaki-Nya, Buddha bertanya kepada Rahula, “Apakah air bekas cuci kaki-Ku ini bisa diminum?” Rahula menjawab, “Yang Dijunjung, sebelum digunakan untuk mencuci kaki, air sangat bersih dan dapat diminum. Namun, setelah digunakan untuk mencuci kaki, air menjadi kotor. Mana bisa diminum?” Buddha menjawab, “Baiklah, kosongkanlah baskom ini. Setelah airnya dibuang, bawa kembali baskom ini.”

Buddha lalu menendang baskom itu dengan menggunakan kaki hingga terbalik. Buddha berkata, “Sekarang ambillah air dan tuangkan ke dalam baskom yang terbalik ini.” Rahula menjawab, “Yang Dijunjung, jika ingin mengisi air, saya harus membalikkan kembali baskom ini.” “Benar. Sifatmu sekarang sama seperti baskom ini. Sifat hakikimu sangat murni dan bersih. Namun, mengapa engkau berbohong kepada orang? Jika begitu, hatimu menjadi tidak bersih bagaikan air kotor di dalam baskom itu.”

Rahula menjawab, “Namun, aku sudah membuang airnya. Aku ingin berubah.” Buddha berkata, “Ya. Namun, sekarang baskom ini sudah terbalik. Kau tidak bisa mengisi air ke dalamnya. Ini berarti jika kau tidak benar-benar bertobat, maka ia tetap tak bisa diisi air. Meski baskomnya sudah dibalik kembali, jika kau tidak sungguh-sungguh membersihkannya, air yang kau tuang tetap tak bisa dipakai.”

Rahula menundukkan kepala dan berkata kepada Buddha, “Aku membohongi orang hanya untuk bermain-main. Aku tidak bermaksud jahat.” “Meski begitu,” jawab Buddha, “kebiasaan buruk ini telah terkumpul banyak. Jika kau terus melakukan hal ini, kelak tidak akan ada orang yang percaya lagi padamu.” Rahula menyadari kesalahannya. Dia tahu bahwa dia harus segera memperbaiki diri.

mcer031-3

Inilah cara Buddha mengajari Rahula. Buddha juga membimbing semua makhluk seperti membimbing anak-Nya sendiri. Setelah menyadari kesalahan, janganlah kita mengulanginya lagi. Setelah melakukan suatu kesalahan, janganlah kita menutupinya. Jika menutupi kesalahan kita, maka hati kita tidak akan terbuka. Jika hati tidak terbuka, maka kita tak dapat merangkul segala sesuatu di dunia.

Seperti yang saya katakan tadi, dengan hati yang lapang, kita dapat merangkul segala sesuatu di dunia. Janganlah kita menutupi kesalahan sendiri. Seperti yang dikatakan orang, “Jika tidak ingin orang mengetahuinya, maka janganlah melakukannya.” Meski kita tidak mengatakannya, apakah benar tidak ada orang yang tahu?

Kita sering khawatir ada orang mengkritik kita di belakang. Kita khawatir bertemu dengan orang yang mengetahui masa lalu kita dan memberi tahu orang lain tentang kerburukan kita. Jika demikian, hati kita akan semakin lama semakin sempit dan tidak bisa terbuka. Jadi, jika ingin memiliki hati yang lapang, kita harus memiliki rasa malu dan bertobat.

Dengan hati yang lapang, baru kita dapat merangkul segala sesuatu di alam semesta. Selain itu, kita juga harus berpikiran murni agar hati kita bersih dan bebas noda. Kita harus menghadapi setiap orang dengan hati yang tulus dan penuh hormat. Dalam melakukan segala sesuatu, kita harus memiliki sila di dalam hati.

Kita harus menjaga sila dan selalu berhati-hati. Dengan demikian, kita tidak akan timbul niat untuk membohongi orang. Inilah orang yang sungguh-sungguh memiliki rasa malu dan ingin bertobat secara terbuka.

Sumber : http://www.tzuchi.or.id/ruang-master/master-bercerita/hikmah-dari-sebaskom-air/12871

Iklan
Pos ini dipublikasikan di 7. Kisah Dharma dan tag , , , . Tandai permalink.