Kisah Raja Pasenadi Dari Kosala

Suatu hari, Raja Pasenadi dari Kosala pergi ke vihara untuk memberi hormat kepada Sang Buddha setelah raja bersantap dengan banyak. Raja mempunyai kebiasaan makan seperempat sangku (setengah gantang) nasi dan kari daging. Saat di hadapan Sang Buddha, raja merasa sangat mengantuk sehingga ia terus menerus terangguk-angguk menahan kantuk dan hampir tidak dapat mempertahankan dirinya untuk tetap terjaga. Kemudian ia berkata kepada Sang Buddha, “Bhante! Saya merasa sangat tidak nyaman setelah saya makan.” Padanya, Sang Buddha menjawab, “O, Raja! Orang serakah banyak makan benar-benar menderita dengan cara seperti itu.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 325 berikut :

Jika seseorang menjadi malas, serakah, rakus akan makanan dan suka merebahkan diri, sama seperti babi hutan yang berguling-guling ke sana kemari. Orang yang bodoh ini akan terus menerus dilahirkan.

Setelah mendengar khotbah Dhamma itu, Raja mengerti pesan tersebut, berangsur-angsur mengurangi jumlah makanan yang dimakannya. Hasilnya, ia menjadi jauh lebih bersemangat dan mudah berjaga, oleh karena itu ia juga berbahagia.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (325)

Sumber : http://www.dhammasena.org/dhammapada/contents/da23_004.htm

Iklan
Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , , , ,

Master Bercerita: Ananda dan Matangi

Buddha berkata bahwa pada hakikatnya, hati, Buddha, dan semua makhluk tiada perbedaan. Semua makhluk memiliki kebijaksanaan yang setara dengan Buddha. Sesungguhnya, kebijaksanaan kita setara dengan Buddha. Setiap orang memiliki kebijaksanaan. Namun, berhubung kita belum tercerahkan, maka kebijaksanaan kita pun belum bersinar. Kebijaksanaan bagaikan batu intan yang terdapat di dalam tambang.

Sejak awal, Buddha sudah menyadari keberadaan intan ini dan bisa menggalinya.

Setelah menggali intan ini, Buddha terus memolesnya sehingga semakin lama semakin cemerlang dan bisa memantulkan cahaya. Saya sering mengimbau orang-orang untuk melatih diri lewat masalah yang dihadapi. Sungguh, dengan menghadapi orang dan masalah di dunia ini, kita bisa melatih diri.

Buddha mengajari kita Empat Landasan Perenungan, yakni tubuh tidaklah bersih, perasaan membawa derita, pikiran tidaklah kekal, dan segala fenomena bersifat tanpa inti. Kita harus mengamati bahwa tubuh ini tidak bersih. Tubuh kita sungguh tidak bersih. Pikirkanlah baik-baik, berapa lama kita bisa mempertahankan kebersihan tubuh kita?

Setiap hari, orang yang sehat keluar rumah pagi-pagi untuk bekerja dan beraktivitas. Pada malam hari, kita akan mandi. Setelah mandi, kita bisa melihat lapisan minyak di permukaan air. Bayangkanlah, betapa tidak bersihnya tubuh kita. Ananda adalah salah satu murid Buddha. Buddha memiliki 32 ciri manusia agung, sedangkan Ananda memiliki 30 ciri manusia agung, sangat rupawan.

Suatu hari, Buddha meminta Ananda menjalankan tugas. Karena itu, Ananda tertinggal saat Buddha dan murid-murid-Nya mengumpulkan makanan. Jadi, dia mengumpulkan makanan sendirian. Mangkuknya masih kosong, tetapi dia sudah sangat haus. Dia melihat di tepi sumur, ada seorang gadis sedang menimba air. Dia pun mengulurkan mangkuknya untuk meminta semangkuk air. Melihat Ananda, gadis bernama Matangi itu jatuh hati kepada Ananda. Karena itu, dia pulang dan berkata pada ibunya,”Saya jatuh hati pada seorang murid Buddha yang bernama Ananda. Saya ingin menikah dengannya.”

Ibunya berkata, “Itu mustahil. Murid Buddha telah meninggalkan keduniawian dan harus menaati sila yang ketat. Mereka tidak mungkin menikah.” Namun, Matangi mengancam ibunya dengan berkata, “Tanpa Ananda, saya tidak ingin hidup lagi.” Matangi menolak untuk makan. Demi putrinya, sang ibu yang tidak berdaya akhirnya menggunakan ilmu sihir. Tanpa sadar, Ananda berjalan memasuki rumah Matangi. Mengetahui hal ini, Buddha pun menyuruh Bodhisattva Manjusri untuk menyadarkan Ananda.

Setelah terbebas dari pengaruh sihir, Ananda merasa sangat malu dan segera berlari pulang. Matangi terus mengejarnya. Saat tiba di hadapan Buddha, Ananda merasa sangat malu dan langsung berlutut untuk bertobat. Buddha lalu menyuruh Ananda untuk mandi dan membersihkan tubuhnya. Kemudian, Matangi juga tiba. Dia berkata kepada Buddha, “Berbaik hatilah, kembalikan Ananda pada saya.”

Buddha berkata,”Bagian mana dari Ananda yang kamu cintai?” Matangi berkata, “Sekujur tubuhnya.” Buddha lalu menyuruh murid lain untuk membawa air bekas mandi Ananda. Air itu diletakkan di hadapan Buddha. Buddha lalu berkata pada Matangi, “Tadi, kamu bilang bahwa kamu mencintai Ananda.” Dia berkata, “Ya.” Buddha berkata, “Jika demikian, minumlah air bekas mandi Ananda ini.”


Melihat air itu, Matangi berkata, “Mengapa menyuruh saya meminum air sekotor ini?” Buddha lalu berkata, “Bukankah kamu mencintai Ananda? Jika kamu mencintai sekujur tubuhnya, mengapa tidak berani meminum air bekas mandinya?”

Dia berkata, “Saya merasa jijik.Bagaimana saya bisa meminum air sekotor ini?”

Buddha lalu berkata, “Hanya air bekas mandi saja sudah jijik, bagaimana jika kelak dia tua, jatuh sakit, dan meninggal dunia? Apakah kamu juga merasa jijik?” Dia berkata, “Tentu saja.”

Matangi lalu menundukkan kepala dan bersungguh-sungguh merenung, “Saat ini, saya masih muda sehingga mudah terpesona oleh penampilan. Namun, bagaimana jika sudah tua kelak? Bagaimana jika jatuh sakit atau meninggal dunia? Lagi pula, tubuh manusia begitu tidak bersih. Apa yang ingin saya kejar?” Dia pun tersadarkan dan mencapai buah pencerahan tingkat pertama. Kesadaran dan kebijaksanaannya tiba-tiba timbul.

Setelah kesadaran dan kebijaksanaannya timbul, dia tahu bahwa tubuh manusia tidak bersih serta mengalami fase lahir, tua, sakit, dan mati. Tubuh manusia terus mengalami metabolism dan tidak kekal. Jadi, untuk apa melekat pada fisik?

Dia telah menyadari kebenaran ini. Kita harus memahami prinsip kebenaran dalam hidup ini. Dengan memahami prinsip kebenaran, kita dapat menumbuhkan kebijaksanaan dan batin kita akan semakin cemerlang.

Dari kehidupan ke kehidupan selama berkalpa-kalpa, Buddha terus menjangkau semua makhluk untuk melatih diri. Tidak peduli menghadapi orang atau masalah apa yang mendatangkan kerisauan dan penderitaan, Buddha bisa memahami kebenaran darinya dan terus memberikan bantuan. Karena itu, batin-Nya sudah sejernih cermin. Saat kita melihat ke sebuah cermin, asalkan cermin itu dilap dengan bersih, maka kita bisa melihat bayangan kita dengan jelas.

Saat diarahkan ke luar, cermin tersebut juga bisa memantulkan pemandangan alam.

Apa pun yang ada di hadapan cermin ini, semuanya akan terpantul dengan jelas. Jadi, dengan menjaga kebersihan cermin batin, kita bisa melihat segala sesuatu di dunia ini dengan sangat jelas. Jika cermin batin kita tidak dilap, maka meski berada di lingkungan yang indah,cermin yang buram juga tidak bisa memantulkannya. Jadi, kita harus melatih diri di tengah masyarakat.

Di tengah masyarakat, kita harus menolong orang yang menderita tanpa terpengaruh oleh noda batin. Kita semua harus membangkitkan cinta kasih. Cinta kasih ini adalah cinta kasih tanpa kerisauan dan tanpa pamrih. Kita hanya bersumbangsih dengan sepenuh hati.

Sumber : http://www.tzuchi.or.id/ruang-master/master-bercerita/master-bercerita-ananda-dan-matangi/12932

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , ,

Kisah Seorang BhikkhuYang Dahulu Sebagai Pelatih Gajah

Pada suatu kesempatan, beberapa bhikkhu melihat seorang pelatih gajah dan gajahnya di tepi sungai Aciravati. Saat itu, pelatih tersebut menemui kesulitan untuk mengendalikan gajahnya. Salah satu dari para bhikkhu tersebut, yang merupakan bekas pelatih gajah, berkata pada bhikkhu-bhikkhu yang lain bagaimana cara menanganinya dengan mudah.

Pelatih gajah tersebut mendengarnya dan melakukan seperti yang dikatakan oleh bhikkhu tersebut. Dengan cepat gajah tersebut ditaklukkan. Setelah tiba kembali di vihara, para bhikkhu memberitahukan kejadian tersebut kepada Sang Buddha.

Sang Buddha mengundang bhikkhu bekas pelatih gajah tersebut dan berkata, “O bhikkhu yang sia-sia, yang jauh dari ‘Jalan’ (Magga) dan ‘Hasil’ (Phala)! Kau tidak mendapatkan apapun dengan menaklukkan gajah. Tak ada seorangpun yang dapat pergi ke suatu tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya (yaitu nibbana) dengan menaklukkan gajah; hanya ia yang telah menaklukkan dirinya sendiri yang dapat merealisasinya.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 323 berikut :

Tidak dengan mengendarai tunggangan seperti itu
seseorang dapat pergi ke tempat yang belum pernah didatangi (nibbana).
Namun orang yang telah dapat melatih, menaklukkan,
dan mengendalikan dirinya sendiri
dapat pergi ke tempat yang belum pernah didatangi itu (nibbana).

Sumber : https://www.sariputta.com/dhammapada/323/cerita-kisah-seorang-bhikkhuyang-dahulu-sebagai-pelatih-gajah

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , , , ,

Kisah Menaklukkan Diri Sendiri

Suatu saat ayah Magandiya, karena sangat tertarik dengan kepribadian dan penampilan Sang Buddha, telah mempersembahkan anak perempuannya yang sangat cantik untuk dijadikan istri Sang Buddha Gotama. Tetapi Sang Buddha menolak persembahan itu dan berkata bahwa Beliau tidak akan mau menyentuh hal itu yang penuh dengan kotoran, sekalipun dengan kakinya. Ketika mendengar kata-kata ini kedua ayah dan ibu Magandiya melihat kebenaran dalam kata-kata tersebut dan mencapai tingkat kesucian anagami. Tetapi Magandiya menganggap Sang Buddha sebagai musuh dan bertekad untuk membalas dendam kepada Beliau.

Kemudian ia menjadi salah satu dari tiga istri Raja Udena. Ketika Magandiya mendengar kabar bahwa Sang Buddha telah datang ke Kosambi, ia menyewa beberapa penduduk dan pelayan-pelayannya untuk mencaci maki Sang Buddha saat Beliau memasuki kota untuk berpindapatta. Orang-orang sewaan tersebut mengikuti Sang Buddha dan mencaci maki dengan menggunakan kata-kata yang sedemikian kasar seperti ‘pencuri, bodoh, unta, keledai, suatu ikatan ke neraka’, dan sebagainya. Mendengar kata-kata yang kasar tersebut, Y.A.Ananda memohon kepada Sang Buddha untuk meninggalkan kota dan pergi ke tempat lain.

Tetapi Sang Buddha menolak dan berkata, “Di kota lain, kita juga mungkin dicaci maki dan tidak mungkin untuk selalu berpindah tempat setiap kali seseorang dicaci maki. Lebih baik menyelesaikan masalah di tempat terjadinya masalah. Saya seperti seekor gajah yang menahan panah-panah yang datang dari semua penjuru. Saya juga akan menahan dengan sabar caci maki yang datang dari orang-orang yang tidak memiliki moral.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 320,321,dan 322 berikut ini :

Seperti seekor gajah di medan perang dapat menahan serangan panah
yang dilepaskan dari busur, begitu pula Aku (Tathagata) tetap bersabar terhadap cacian, sesungguhnya sebagian besar orang mempunyai kelakuan rendah.

Mereka menuntun gajah yang telah terlatih ke hadapan orang banyak.
Raja mengendarai gajah yang terlatih ke medan perang. Di antara umat manusia, maka yang terbaik adalah orang yang dapat menaklukkan dirinya sendiri dan dapat bersabar terhadap cacian.

Sungguh baik keledai-keledai yang terlatih, begitu juga kuda-kuda Sindhu
dan gajah-gajah perang milik para bangsawan, tetapi yang jauh lebih baik dari semua itu adalah orang yang telah dapat menaklukkan dirinya sendiri.

Pada akhir khotbah Dhamma tersebut, mereka yang telah mencaci maki Sang Buddha menyadari kesalahannya yang datang untuk menghormat Beliau, beberapa di antara mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (320, 321, 322)

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-menaklukkan-diri-sendiri/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , , , ,

Kisah Murid-Murid Para Petapa Bukan Pengikut Buddha

Murid-murid dari petapa-petapa Titthi tidak ingin anak-anak mereka bermain dengan anak-anak pengikut Sang Buddha. Mereka sering berkata kepada anak-anaknya, “Jangan pergi ke Vihara Jetavana, jangan memberi hormat kepada para bhikkhu dari suku Sakya!”

Suatu ketika, anak-anak laki Titthi tersebut sedang bermain dengan seorang anak laki-laki Buddhis di dekat pintu masuk Vihara Jetavana, mereka merasa sangat haus. Karena anak-anak dari murid-murid petapa Titthi telah diberitahu oleh orang tua mereka untuk tidak memasuki vihara Sang Buddha, mereka meminta anak laki-laki Buddhis itu untuk pergi ke vihara dan membawakan air untuk mereka. Anak laki-laki Buddhis tersebut pergi masuk ke vihara, memberi hormat kepada Sang Buddha. Setelah minum, ia menceritakan kepada Sang Buddha tentang teman-temannya yang dilarang oleh orang tua mereka untuk memasuki vihara Buddha

Sang Buddha berkata kepada anak laki-laki tersebut agar disampaikan kepada teman-temannya yang bukan Buddhis untuk datang dan minum di vihara. Ketika anak-anak laki tersebut datang, Sang Buddha memberi khotbah kepada mereka untuk menyesuaikan wataknya yang beraneka ragam. Sebagai hasilnya, anak-anak tersebut menjadi yakin terhadap Tiga Permata (Tiratana), yaitu Buddha, Dhamma, dan Sangha.

Ketika anak-anak tersebut kembali ke rumah, mereka menceritakan kunjungan mereka ke Vihara Jetavana dan tentang Sang Buddha yang telah mengajarkan Tiga Permata kepada mereka.

Karena kebodohannya, para orang tua anak-anak tersebut berteriak, “Anak-anak laki kita telah tidak setia terhadap kepercayaan kita, mereka telah dihancurkan,” dan seterusnya. Beberapa tetangga yang pandai menasehati para orang tua yang sedang meratap itu untuk berhenti menangis, dan sebaiknya mengirimkan anak-anak mereka kepada Sang Buddha. Mereka menyetujuinya, dan anak-anak tersebut beserta orang tuanya pergi menghadap Sang Buddha.

Sang Buddha mengetahui mengapa mereka datang. Beliau berkata kepada mereka dalam syair 318 dan 319 berikut ini :

Mereka yang menganggap tercela terhadap apa yang sebenarnya tidak tercela dan menganggap tidak tercela terhadap apa yang sebenarnya tercela, maka orang yang menganut pandangan salah seperti itu akan masuk ke alam sengsara.

Mereka yang mengetahui apa yang tercela sebagai terceladan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela, maka orang yang menganut pandangan benar seperti itu akan masuk ke alam bahagia.

Pada akhir khotbah Dhamma ini, semua orang yang hadir menjadi yakin terhadap Tiga Permata (Tiratana), dan setelah mendengarkan khotbah selanjutnya dari Sang Buddha, mereka mencapai tingkat kesucian sotapatti.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (318, 319)

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-murid-murid/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , , , ,

Syair Sang Buddha

Bagaikan rumput kusa, bila dipegang secara salah
akan melukai tangan;
begitu juga kehidupan seorang pertapa, apabila dijalankan secara salah akan menyeret orang ke neraka.

Bila suatu pekerjaan dikerjakan dengan seenaknya,
suatu tekad tidak dijalankan dengan selayaknya, kehidupan suci tidak dijalankan dengan sepenuh hati;
maka semuanya ini tidak akan membuahkan hasil yang besar.

Hendaklah orang mengerjakan sesuatu dengan sepenuh hati.
Suatu kehidupan suci yang dijalankan dengan seenaknya akan membangkitkan debu nafsu yang lebih besar.

Sumber : Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (311, 312, 313)

Dipublikasi di 8. Renungan Dan Pelaksanaan Dharma | Tag , ,

Kisah Khemaka, Anak Laki-laki Seorang Kaya

Khemaka, selain kaya, juga sangat tampan dan banyak wanita sangat tertarik kepadanya. Banyak wanita tidak dapat menolak keinginan nafsu seksualnya sehingga mereka menjadi korban pelecehan seksual. Khemaka melakukan perzinaan tanpa penyesalan. Anak buah Raja menangkapnya tiga kali karena perbuatan asusila dan membawanya ke hadapan Raja. Tetapi Raja Pasenadi Kosala tidak dapat berbuat apa-apa karena Khemaka adalah keponakan Anathapindika. Maka Anathapindika sendiri membawa keponakannya menghadap kepada Sang Buddha.

Sang Buddha berbicara kepada Khemaka tentang keburukan perbuatan asusila dan seriusnya akibat yang ditimbulkan. Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 309 dan 310 berikut :

Orang yang lengah dan berzina  akan menerima empat ganjaran, yaitu : pertama, ia akan menerima akibat buruk; kedua, ia tidak dapat tidur dengan tenang;
ketiga, namanya tercela; dan keempat, ia akan masuk ke alam neraka.

Ia akan menerima akibat buruk dan kelahiran rendah
pada kehidupannya yang akan datang.
Sungguh singkat kenikmatan yang diperoleh lelaki dan wanita yang ketakutan dan rajapun akan menjatuhkan hukuman berat.
Karena itu, janganlah seseorang berzina dengan istri orang lain.

Khemaka mencapai tingkat kesucian sotapatti, setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (309, 310)

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/dhammapada/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , , , ,