Syair Sang Buddha

Sebagian besar orang tidak mengetahui bahwa dalam pertengkaran mereka akan binasa. tetapi mereka,
yang dapat menyadari kebenaran ini, akan segera mengakhiri semua pertengkaran.

Sumber : Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (6)

Iklan
Dipublikasi di 8. Renungan Dan Pelaksanaan Dharma | Tag , ,

Syair Sang Buddha

Kebencian tak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian.
Tetapi, kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci, inilah satu hukum abadi.

Sumber : Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (5)

Dipublikasi di 8. Renungan Dan Pelaksanaan Dharma | Tag , ,

Syair Sang Buddha

“Ia menghina saya,
ia memukul saya,
ia mengalahkan saya,
ia merampas milik saya.”
Selama seseorang masih menyimpan pikiran seperti itu,
maka kebencian tak akan pernah berakhir.

“Ia menghina saya,
ia memukul saya,
ia mengalahkan saya,
ia merampas milik saya.”
Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu,
maka kebencian akan berakhir.

Sumber : Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (3,4)

Dipublikasi di 8. Renungan Dan Pelaksanaan Dharma | Tag , ,

Syair Sang Buddha

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran murni, maka kebahagiaan akan mengikutinya, bagaikan bayang-bayang yang tak pernah meninggalkan bendanya.

Sumber : Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (2)

Dipublikasi di 8. Renungan Dan Pelaksanaan Dharma | Tag , ,

Syair Sang Buddha

Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk.
Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya, bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya.

Sumber : Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (1)

Dipublikasi di 8. Renungan Dan Pelaksanaan Dharma | Tag , ,

Kata Perenungan Master Cheng Yen

Prinsip kebenaran bukan terletak pada seberapa banyak yang didengar, namun pada seberapa banyak yang bisa diterapkan dalam tindakan nyata.

Dipublikasi di 9. Kata Perenungan Master Cheng Yen | Tag , ,

Kisah Brahmana Bersaudara Yang Kasar

Suatu ketika ada seorang brahmana, yang istrinya mempunyai kebiasaan latah/mengatakan tanpa berpikir terlebih dahulu beberapa kata-kata kapan saja ia bersin, atau ketika sesuatu/seseorang menyentuhnya tanpa sadar. Suatu hari, brahmana itu mengundang beberapa teman-temannya untuk makan dan tiba-tiba istri brahmana mengucapkan beberapa kata tanpa dipikir terlebih dahulu. Karena ia adalah seorang sotapanna, kata-kata “Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa” secara otomatis keluar dari mulutnya. Kata-kata pemuliaan bagi Sang Buddha ini sangat tidak disukai oleh suaminya, yang seorang brahmana. Sehingga, dalam kemarahannya, ia pergi menemui Sang Buddha berharap untuk mengajukan beberapa pertanyaan yang menantang Sang Buddha.

Pertanyaan pertamanya adalah, “Apakah yang harus kita bunuh untuk dapat hidup dengan bahagia dan damai?” dan pertanyaan keduanya adalah, “Membunuh Dhamma yang mana Anda setujui?”

Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Sang Buddha menjawab, “O, brahmana untuk dapat hidup dengan bahagia dan damai, seseorang harus dapat membunuh kebencian (dosa). Membunuh kebencian seseorang adalah yang disenangi dan dipuji oleh para Buddha dan para arahat.”

Setelah mendengar kata-kata Sang Buddha, brahmana tersebut menjadi sangat terkesan dan puas dengan jawaban tersebut, sehingga ia mohon untuk diijinkan masuk dalam pasamuan bhikkhu. Ia diterima masuk dalam pasamuan bhikkhu dan kelak ia menjadi seorang arahat.

Brahmana ini mempunyai seorang saudara laki-laki yang sangat terkenal karena kata-kata hinaannya dan dikenal sebagai Akkosaka Bharadvaja, Bharadvaja yang suka menghina/berkata kasar. Ketika Akkosaka Bharadvaja mendengar bahwa saudara laki-lakinya telah masuk dalam pasamuan bhikkhu, ia menjadi sangat marah. Ia langsung pergi ke vihara dan berkata kasar kepada Sang Buddha.

Sang Buddha pada gilirannya bertanya, ” O,brahmana, kita misalkan, engkau menawarkan beberapa makanan kepada beberapa tamu dan mereka meninggalkan rumah tanpa mengambil makanan tersebut. Karena tamu tersebut tidak menerima makananmu itu, kemudian makanan itu menjadi milik siapa ?”

Brahmana tersebut menjawab, bahwa makanan itu menjadi miliknya.

Setelah menerima jawaban tersebut Sang Buddha berkata, “Dengan cara yang sama, O brahmana, karena Aku tidak menerima hinaan/kata-kata kasarmu, maka hinaan tersebut akan kembali kepadamu.”

Akkosaka Bharadvaja dengan segera menyadari kebijaksanaan dari kata-kata tersebut dan ia menaruh rasa hormat kepada Sang Buddha. Ia juga memasuki pasamuan bhikkhu, kemudian ia menjadi seorang Arahat.

Setelah Akkosaka Bharadvaja memasuki kelompok, dua saudara laki-laki ini juga datang menemui Sang Buddha dengan tujuan yang sama yaitu menghina/berkata kasar kepada Sang Buddha. Mereka juga dibuat melihat cahaya Kebenaran oleh Sang Buddha dan mereka juga, pada gilirannya memasuki pasamuan. Akhirnya, mereka berdua juga menjadi arahat.

Suatu sore pada saat berkumpulnya para bhikkhu, para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha, “O betapa indahnya dan betapa agungnya kebajikan Sang Buddha ! Empat brahmana bersaudara datang kemari untuk menghina Sang Buddha; daripada berdebat dengan mereka; Beliau membuat mereka melihat cahaya, dan sebagai hasilnya, Sang Buddha telah menjadi pelindung bagi mereka.”

Kepada mereka Sang Buddha menjawab, “Para bhikkhu! karena Aku sabar dan menahan diri dan tidak melakukan kesalahan kepada mereka yang melakukan kesalahan kepadaKu, Aku menjadi pelindung bagi banyak orang. ”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 399 berikut :

Seseorang yang tidak marah, yang dapat menahan hinaan, penganiayaan, dan hukuman yang memiliki senjata kesabaran, maka ia Kusebut seorang ‘brahmana’

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (399)

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-brahmana-bersaudara-yang-kasar/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , , , , ,