Kisah Para Pemuda

Suatu waktu, Sang Buddha sedang menerima dana makanan di Savatthi. Ketika itu Beliau berjalan melewati sekelompok pemuda yang sedang memukul ular dengan tongkat. Sang Buddha bertanya kepada mereka perihal itu, dan mereka menjawab, mereka memukul ular itu karena takut ular itu menggigitnya. Kepada mereka, Sang Buddha berkata, “Jika kalian tidak ingin luka, seharusnya kalian tidak melukai yang lain, jika kalian melukai mereka, kalian tidak akan mendapat kebahagiaan. Juga di kelak kemudian hari.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 131 dan 132 berikut ini:

Barang siapa mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan jalan menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka setelah mati ia tak akan memperoleh kebahagiaan.

Barang siapa mencari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dengan jalan tidak menganiaya makhluk lain yang juga mendambakan kebahagiaan, maka setelah mati ia akan memperoleh kebahagiaan.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (131, 132)

Sumber : http://samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-para-pemuda/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tinggalkan komentar

Kisah Kondadhana Thera

Sejak Kondadhana Thera diterima dalam pasamuan Sangha, ada bayangan wanita yang selalu mengikuti beliau. Bayangan ini hanya dapat dilihat oleh orang lain, sedangkan Kondadhana Thera sendiri tidak melihatnya.

Ketika beliau berpindapatta, orang-orang memberikan dua sendok makanan kepada beliau, dengan mengatakan, “Ini untuk Bhante, dan yang ini untuk wanita yang mengikuti Bhante.”

Melihat seorang bhikkhu bepergian dengan seorang wanita, para penduduk menghadap kepada Raja Pasenadi dari Kosala dan melaporkan perihal bhikkhu dengan wanita tersebut, “O, Raja, usir saja bhikkhu itu dari kerajaanmu karena beliau tidak memiliki moral.” Raja segera pergi ke vihara tempat bhikkhu itu berdiam dan para pengawalnya mengepung vihara tersebut.

Mendengar suara ribut, bhikkhu itu keluar dan berdiri di depan pintu, dan bayangan wanita itu berada tidak jauh dari bhikkhu tersebut. Mengetahui raja yang datang, bhikkhu tersebut masuk dan menunggu di dalam. Raja masuk ke dalam ruangan, dan bayangan wanita itu tidak terdapat dalam tempat itu.

Kemudian Raja bertanya kepada bhikkhu itu, di mana wanita tersebut berada, bhikkhu itu menjawab bahwa ia tidak melihat wanita.

Raja menginginkan kepastian, ia menyuruh bhikkhu tersebut keluar ruangan. Kemudian bhikkhu tersebut keluar ruangan, dan ketika raja melihat keluar tertampak bayangan wanita di dekat bhikkhu itu.

Akan tetapi ketika bhikkhu memasuki ruangan kembali, bayangan tersebut tidak diketemukan. Raja kemudian mengatakan bahwa wanita itu tidak benar-benar ada, dan bhikkhu tersebut tidak bersalah. Raja mengundang bhikkhu itu untuk datang ke istana, dan menerima dana makanan setiap hari.

Ketika bhikkhu lain mendengar hal itu, mereka ragu-ragu dan bingung, dan mereka berkata kepada Kondadhana Thera: “O, bhikkhu yang tidak bermoral! Sekarang raja akan menyuruhmu keluar dari kerajaan ini setelah engkau menerima dana makanan, karena engkau bersalah!”

Kondadhana Thera berkata dengan pedas: “Hanya engkau satu-satunya yang tidak bermoral, hanya kamu yang bersalah, sebab hanya engkau yang bepergian dengan wanita!”

Para bhikkhu kemudian menceritakan masalah ini kepada Sang Buddha.

Sang Buddha mengundang Kondadhana Thera dan bertanya, “Anakku, apakah engkau melihat wanita bersama dengan para bhikkhu ketika engkau berbicara dengan mereka? Apakah engkau melihat wanita bersama mereka seperti mereka melihat engkau bersama wanita. Saya mengetahui bahwa engkau tidak menyadari telah menciptakan masalah sebagai akibat perbuatan jahatmu dalam kehidupan yang lampau. Sekarang dengarlah, Saya akan menjelaskan kepadamu mengapa ada bayangan wanita yang mengikuti dirimu. Engkau adalah dewa dalam kehidupan lampaumu. Pada waktu itu ada dua orang bhikkhu yang sangat akrab. Engkau berusaha membuat masalah di antara mereka berdua, engkau menyamar sebagai seorang wanita yang mengikuti salah seorang bhikkhu itu. Atas perbuatanmu itu, engkau sekarang diikuti oleh bayangan wanita. Jadi, selanjutnya engkau jangan berdebat dengan bhikkhu lain atas permasalahan itu. Diamlah seperti gong yang pecah, dan engkau akan merealisasi nibbana.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 133 dan 134 berikut ini:
Jangan berbicara kasar kepada siapapun, karena mereka yang mendapat perlakuan demikian, akan membalas dengan cara yang sama. Sungguh menyakitkan ucapan kasar itu, yang pada gilirannya akan melukaimu.

Apabila engkau berdiam diri bagaikan sebuah gong pecah, berarti engkau telah mencapai nibbana, sebab keinginan membalas dendam tak terdapat lagi dalam dirimu.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (133-134)

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-kondadhana-thera/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tinggalkan komentar

Kisah Kelompok Enam Bhikkhu

Suatu ketika terdapat tujuh belas bhikkhu sedang membersihkan suatu bangunan komplek Vihara Jetavana dengan tujuan agar dapat menempatinya. Pada saat yang bersamaan tiba di tempat itu pula kelompok enam bhikkhu. Kelompok enam bhikkhu mengatakan kepada kelompok pertama, “Kami adalah senior kalian, jadi sebaiknya kalian memberi kemudahan kepada kami, tempat ini akan kami pergunakan.” Kelompok tujuh belas bhikkhu tidak mau memberikan tempat tersebut, sehingga chabbaggi bhikkhu memukuli mereka dan membuat mereka berteriak-teriak kesakitan.

Sang Buddha mendengar perihal itu, kemudian Beliau memberi teguran kepada mereka, dan menetapkan peraturan bahwa bhikkhu tidak boleh memukul bhikkhu lain.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 129 berikut:

Semua orang takut akan hukuman; semua orang takut akan kematian.
Setelah membandingkan orang lain dengan diri sendiri,
hendaknya seseorang tidak membunuh atau mengakibatkan pembunuhan.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (129)

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-kelompok-enam-bhikkhu/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tinggalkan komentar

Kisah Mahadhana

Mahadhana adalah seorang pedagang kaya dari Savatthi. Pada suatu kesempatan, lima ratus perampok telah merencanakan untuk merampoknya, tetapi mereka tidak mempunyai kesempatan untuk merampoknya.

Pada saat lain para perampok itu mendengar bahwa pedagang Mahadhana akan segera bepergian dengan lima ratus kereta penuh dengan barang-barang berharga. Pedagang Mahadhana juga mengajak bhikkhu-bhikhu yang akan bepergian pada tujuan yang sama untuk pergi bersama dengannya. Dan dia berjanji untuk memperhatikan kebutuhan bhikkhu-bhikkhu selama dalam perjalanan. Lalu ke lima ratus bhikkhu pergi bersama dengannya.

Perampok-perampok memperoleh berita perjalanan mereka dan pergi mendahului di depan untuk menunggu rombongan pedagang. Tetapi pedagang itu berhenti di pinggir hutan tempat perampok-perampok itu sedang menunggu. Rombongan akan melanjutkan perjalanannya setelah bermalam beberapa hari.

Perampok-perampok memperoleh berita keberangkatan mendatang, dan membuat persiapan untuk merampok rombongan tersebut. Pedagang juga mendengar kabar gerakan penjahat-penjahat tersebut dan memutuskan untuk kembali ke rumah.

Penjahat-penjahat sekarang mendengar bahwa pedagang akan pulang ke rumah, lalu mereka menunggu di jalan yang menuju rumah. Beberapa orang desa mengirim berita kepada pedagang mengenai gerakan para penjahat, dan akhirnya pedagang memutuskan untuk tinggal di desa beberapa waktu.

Ketika pedagang memberitahu keputusannya kepada para bhikkhu, bhikkhu-bhikkhu itu sendiri pulang kembali ke Savatthi. Sesampai di Vihara Jetavana, para bhikkhu menemui Sang Buddha dan memberitahu Beliau perihal tertunda-nya perjalanan mereka. Kepada mereka, Sang Buddha berkata: “Para bhikkhu, Mahadhana menghindar dari perjalanan yang dikepung oleh para penjahat. Seseorang yang tidak ingin meninggal dunia menghindar dari racun. Para bhikkhu bijaksana, yang menyadari bahwa tiga tingkat alam kehidupan serupa dengan perjalanan yang dikepung dengan bahaya, hendaknya berusaha keras menghindar dari berbuat jahat.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 123 berikut:

Bagaikan seorang saudagar yang dengan sedikit pengawal membawa banyak harta, menghindari jalan yang berbahaya, demikian pula orang yang mencintai hidup, hendaknya menghindari racun dan hal-hal yang jahat.

Lima ratus bhikkhu tersebut mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (123)

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-mahadhana/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Kisah Brahmana Anatthapucchaka

Suatu ketika, seorang brahmana bernama Anatthapucchaka mengunjungi Sang Buddha dan berkata, “Bhante, saya berpikir bahwa Anda hanya mengetahui praktek-praktek yang bermanfaat dan tidak mengetahui praktek-praktek yang tidak bermanfaat.”

Sang Buddha menjawab bahwa Beliau juga mengetahui praktek-praktek yang tidak bermanfaat dan merugikan. Kemudian Sang Buddha menyebutkan satu per satu enam praktek yang dapat memboroskan kekayaan, sebagai berikut:

1. Tidur sampai matahari terbit.
2. Kebiasaan bermalas-malasan.
3. Bertindak kejam.
4. Gemar minum-minum keras yang menyebabkan mabuk dan lemahnya kesadaran.
5. Berkeliaran sendiri di jalan pada waktu yang tidak tepat, dan
6. Perilaku seks yang salah.

Setelah itu, Sang Buddha bertanya kepada brahmana tersebut bagaimana ia menghidupi dirinya.

Brahmana itu menjawab bahwa ia menghidupi dirinya dengan berjudi, sebagai contoh: bermain dadu.

Selanjutnya Sang Buddha bertanya kepadanya apakah ia menang atau kalah. Ketika sang brahmana menjawab bahwa ia kadangkala menang dan kadangkala kalah, Sang Buddha berkata kepadanya, “Menang dalam permainan dadu tidak dapat diperbandingkan dengan kemenangan melawan kekotoran batin.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 104 dan 105 berikut ini:

Menaklukkan diri sendiri sesungguhnya lebih baik daripada menaklukkan makhluk lain;
orang yang telah menaklukkan dirinya sendiri selalu dapat mengendalikan diri.

Tidak ada Dewa, Mara, Gandhabba, ataupun Brahmana,
yang dapat mengubah kemenangan dari orang yang telah dapat menaklukkan dirinya sendiri.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (104, 105)

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-brahmana-anatthapucchaka/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Kisah Pendengar-pendengar Dhamma

Pada suatu kesempatan, sekumpulan orang dari Savatthi membuat persembahan khusus kepada para bhikkhu secara bersama-sama, dan mereka meminta para bhikkhu memberikan khotbah Dhamma sepanjang malam di tempat mereka. Pada saat itu, banyak di antara para pendengar tidak dapat duduk sepanjang malam, dan mereka pulang lebih cepat; beberapa orang duduk dengan pemikiran yang mendalam sepanjang malam, tetapi kebanyakan dari mereka pada waktu itu mengantuk dan setengah tidur. Hanya sedikit orang yang mendengarkan dengan penuh perhatian khotbah Dhamma itu.

Pagi hari para bhikkhu berkata kepada Sang Buddha tentang apa yang terjadi pada malam hari sebelumnya, Beliau menjawab, “Kebanyakan orang terikat pada dunia ini, hanya sedikit orang yang dapat mencapai pantai seberang (nibbana)”.

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 85 dan 86 berikut ini:

Di antara umat manusia hanya sedikit yang dapat mencapai pantai seberang, sebagian besar hanya berjalan hilir mudik di tepi sebelah sini.

Mereka yang hidup sesuai dengan Dhamma (Kebenaran) yang telah diterangkan dengan baik, akan mencapai Pantai Seberang, menyeberangi alam kematian yang sangat sukar diseberangi.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (85, 86)

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-pendengar-pendengar-dhamma/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar

Kisah Lakunda Bhaddiya Thera

Bhaddiya adalah seorang bhikkhu yang tinggal di Vihara Jetavana. Karena tubuhnya pendek maka ia dikenal dengan sebutan Lakundaka (pendek) oleh para bhikkhu lainnya. Lakundaka Bhaddiya mempunyai sifat yang sangat baik, meskipun bhikkhu-bhikkhu muda mengganggunya dengan memutar hidungnya atau telinganya atau menepuk kepalanya. Sangat sering mereka mengejek dengan mengatakan “Paman, bagaimana keadaanmu? Apakah kamu berbahagia, atau, apakah kamu bosan dengan kehidupan sebagai seorang bhikkhu di sini?” dan lain sebagainya. Lakundaka Bhaddiya tidak pernah membalas dengan kemarahan atau mencaci maki mereka, bahkan dalam hati kecilnya pun ia tidak marah terhadap mereka.

Ketika berbicara mengenai kesabaran dari Lakundaka Bhaddiya, Sang Buddha bersabda, “Seorang arahat tidak pernah terlena pengendalian dirinya, ia tidak punya keinginan untuk berkata kasar atau berpikir menyakiti orang lain. Ia laksana batu karang yang tak tergoyahkan, seorang arahat tidak tergoyahkan karena celaan ataupun pujian.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 81 berikut ini:

Bagaikan batu karang yang tak tergoncangkan oleh badai,
demikian pula para bijaksana tidak akan terpengaruh oleh celaan maupun pujian.

Sutta Pitaka-Khuddaka Nikaya-Dhammapada Atthakatha (81)

Sumber : http://www.samaggi-phala.or.id/tipitaka/kisah-lakunda-bhaddiya-thera/

Dipublikasi di 7. Kisah Dharma | Tag , , , , , | Tinggalkan komentar